“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat
pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur'an itu bukanlah cerita
yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan
menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman.” (Yusuf: 111).
Allah
ialah yang awal; yang tidak ada sesuatu sebelum-Nya, yang berbuat sesuai
kehendak-Nya, tidak ada waktu yang membatasi seluruh perbuatan-Nya, firman-Nya
keluar sesuai dengan kehendak-Nya, kehendak-Nya sejalan dengan kebijakan-Nya;
karena memang Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dalam segala hal yang telah
ditakdirkan dan ditetapkan-Nya, sebagaimana Allah pun Maha Bijaksana dalam
menetapkan semua ketentuan syari’at-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Berdasarkan
kebijaksanaan Allah yang menyeluruh, ilmu-Nya yang melingkupi segala hal dan
rahmat-Nya yang sempurna maka Allah Ta’ala memutuskan untuk menciptakan Nabi
Adam AS sebagai bapaknya manusia, dimana Allah mengutamakan manusia di atas
mahluk lainnya dengan beberapa keutamaan. Kemudian Allah Ta’ala
memberitahukannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (al-Baqarah: 30). Yakni
seorang khalifah yang berbeda dari mahluk sebelum mereka yang tidak akan
mengetahuinya selain Allah.”
Kemudian
para malaikat berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.” (Al-Baqarah:
30). Perkataan itu diutarakan mereka dengan maksud mengagungkan Rabb mereka
jangan sampai Rabb mereka menciptakan mahluk di muka bumi ini yang akhlaknya
menyerupai akhlak mahluk yang pertama atau Allah Ta’ala mengabarkan kepada mereka
tentang penciptaan Nabi Adam AS dan pelanggaran yang akan diperbuat
keturunannya.
Al-Hafizh
Ibnu Katsir berkata dalam kitabnya al-Bidaayah Wa an-Nihaayah (1/70-71): “Allah
Ta’ala mengabarkan kepada para malaikat dengan gaya bahasa pujian mengenai penciptaan Nabi
Nabi Adam AS dan keturunannya, seperti halnya Allah mengabarkan urusan yang
besar sebelum penciptaannya. Para malaikat pun
bertanya dengan maksud menyelidiki dan mencari tahu tentang hikmah di balik
penciptaannya tersebut; dan bukan bermaksud menentang penciptaan Nabi Adam AS
dan keturunannya atau iri terhadap mereka; sebagaimana yang dituduhkan para
mufassir yang bodoh.”
Allah
berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui.” (al-Baqarah: 30)
Sesungguhnya
ilmu Allah meliputi segala sesuatu serta hal-hal yang berkaitan dengan keadaan
mahluk tersebut (Nabi Adam AS) mengenai maslahat dan manfaatnya yang tidak
terhitung dan tidak terhingga.
Allah
memberitahukan kepada mereka tentang keberadaan Dzat-Nya yang sempurna ilmu-Nya
dan Allah mesti mengenalkan keberadaan Dzat-Nya yang memiliki keluasan ilmu dan
hikmah, sehingga Dia tidak mungkin menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan tidak
ada hikmah di baliknya.
Kemudian
Allah menjelaskan kepada para malaikat secara mendetail; bahwa Dia akan
menciptakan Nabi Adam AS dengan tangan-Nya langsung dan akan memuliakannya di
atas seluruh mahluk lainnya. Allah menggenggam satu genggaman dari semua
lapisan tanah; baik yang halus, yang kasar, yang subur dan yang gersang,
sehingga keturunannya memiliki tabiat-tabiat tersebut. Pada mulanya hanya
berupa tanah, kemudian Allah meneteskan air di atasnya, sehingga berubah
menjadi lumpur (tanah liat), dan setelah keberadaan air di dalam lumpur
tersebut telah cukup lama, maka lumpur itu berubah menjadi lumpur hitam yang
diberi bentuk. Selanjutnya Allah Ta’ala menyempurnakan kejadiannya setelah
membentuknya terlebih dahulu; sehingga keberadaannya bagaikan tembikar dari
tanah liat. Pada tahapan ini, maka ia hanya berbentuk jasad tanpa ruh. Setelah
Allah menyempurnakan penciptaan jasadnya, maka Allah meniupkan ruh ke dalamnya,
sehingga jasad itu berubah yang tadinya hanya benda mati menjadi mahluk yang
mempunyai tulang, daging, urat saraf, urat-urat kecil dan ruh. Itulah hakikat penciptaan
manusia, dan Allah menjanjikannya dengan semua ilmu dan kebaikan.
Allah
menyempurnakan ni’mat-Nya kepada Nabi Adam AS dan mengajarinya nama-nama semua
benda. Ilmu yang sempurna niscaya dapat membawa kepada kesempurnaan yang pari
purna dan kesempurnaan akhlak. Allah hendak memperlihatkan kepada para malaikat
mengenai kesempurnaan mahluk ini (Nabi Adam AS). Kemudian Allah menanyakan
kepada para malaikat tentang nama-nama benda yang telah disebutkan Nabi Adam
AS, seraya Allah Ta’ala berfirman kepada mereka: “Dan Dia mengajarkan kepada
Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para
Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
memang kamu orang yang benar!” (Al-Baqarah: 31). Yakni perkataan para malaikat
yang terdahulu yang meminta supaya Allah SWT meninggalkan penciptaan-Nya
didasarkan pada kenyataan yang tampak di hadapan mereka pada saat itu.
Para malaikat tidak mampu mengetahui nama-nama benda yang
telah disebutkan Nabi Adam AS, seraya mereka berkata, “Maha Suci Engkau, tidak
ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah:
32)
Allah
Ta’ala berfirman, “Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini.”
Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah
sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan
bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (Al-Baqarah:
33)
Para malaikat menyaksikan langsung kesempurnaan mahluk
tersebut (Nabi Adam AS) dan kesempurnaan ilmunya yang tidak dimiliki mereka
dalam hal hitungannya. Dengan kejadian itu, mereka mengetahui secara mendetail
dan menyaksikan langsung kebijaksanaan Allah, kemudian mereka pun mengagungkan
serta menghormati Nabi Adam AS. Allah menghendaki pengagungan dan penghormatan
yang diperlihatkan para malaikat kepada Nabi Adam AS dilakukan secara lahir dan
bathin.
Allah
Ta’ala berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam.”
(Al-Baqarah: 34). Yakni hendaklah kamu menghormati, mengagungkan dan
memuliakannya sebagai ibadah, ketaatan, kecintaan dan kepatuhanmu kepada
Rabbmu.
Kemudian
para malaikat pun segera bersujud seluruhnya. Ketika mereka sujud, maka ketika
itu Iblis berada di antara mereka dan Allah memerintahkannya supaya bersujud
kepadanya bersama-sama dengan para malaikat. Iblis bukan berasal dari golongan
malaikat, melainkan berasal dari golongan jin yang diciptakan dari api yang sangat
panas. Iblis menyembunyikan keingkaran terhadap perintah Allah dan ia merasa
iri dengan manusia yang diberikan keutamaan dengan keutamaan tersebut.
Kesombongan
dan keingkaran Iblis menyeretnya ke lembah penolakan bersujud kepada Nabi Adam
AS., dan sebagai bentuk keingkaran terhadap perintah Allah Ta’ala dan
menunjukkan kesombongan.* Iblis tidak dapat menahan perasaan benci dan
keengganannya bersujud kepada Nabi Adam AS., sehingga ia mentolelir dirinya
untuk menunjukkan penentangannya kepada Rabbnya serta mencela kebijakan-Nya,
seraya berkata, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api
sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (al-A’raf: 12). Di dalam ayat lain
Allah SWT berfirman kepadanya: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud
kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan
diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Shad:
75)
Jadi
kekufuran, kesombongan, keingkaran dan kedengkian adalah sebab utama yang
membuat Iblis diusir dan dilaknat.
Allah
Ta’ala berfirman kepadanya: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak
sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu
termasuk orang-orang yang hina.” (al-A’raf: 13)
Iblis
tidak mau tunduk terhadap perintah Rabbnya dan tidak mau bertaubat kepada-Nya,
bahkan ia secara terang-terangan memperlihatkan sikap permusuhannya dan
bersikeras akan memusuhi Nabi Adam AS dan keturunannya. Setelah Iblis
mengetahui bahwa Allah telah memutuskan baginya penderitaan yang abadi, maka ia
segera menyiapkan dirinya untuk menyeru keturunan Nabi Adam AS (manusia)
melalui perkataannya atau perbuatannya dan menjadikan mereka sebagai bala
tentaranya serta pengikut setianya yang dijanjikan bagi mereka lembah kebinasaan.
Iblis berkata, “Ya Rabbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka
dibangkitkan.” (Shad: 79). Selanjutnya tuntaslah pemberian hak atas Iblis untuk
memusuhi Nabi Adam AS dan keturunannya.
Karena
kebijakan Allah telah ditetapkan, bahwa manusia terdiri dari beberapa tabiat
yang saling berlawanan, akhlak yang baik atau yang jelek, maka merupakan suatu
kemestian untuk membedakan akhlak itu dan cara membersihkannya sesuai dengan
kadar penyebabnya dari ujian yang dihadapinya. Ujian terbesarnya adalah kemungkinan
Iblis menyeru mereka kepada segala kejahatan, dimana Allah telah mengabulkan
permintaan Iblis, seraya berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang
yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari
kiamat).” (Shad: 80-81)
Kemudian
Iblis berkata kepada Rabbnya sambil mengikrarkan kedurhakaannya serta
permusuhannya kepada Nabi Adam AS dan keturunannya: “Karena Engkau telah
menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka
dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka
dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak
akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at).” (al-A’raf: 16-17)
Iblis
mengutarakan perkataannya itu, karena ia merasa yakin tidak akan gagal menggoda
manusia.
Allah
Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran
sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian
orang-orang yang beriman.” (as-Saba’: 20)
Selanjutnya
Allah menetapkan perintah yang dikehendaki oleh Iblis yaitu menyesatkan Nabi
Adam AS dan keturunannya, seraya Allah berfirman kepadanya: “Pergilah,
barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam
adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah
siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah
terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan
berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka.
Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan
belaka.” (al-Isra’: 63-64)
Yakni,
jika kamu mampu, maka jadikanlah mereka sebagai orang-orang yang menyimpang
dalam mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan yang mendatangkan
kemudaratan, dan dalam mengelola harta mereka dengan pengelolaan yang
menimbulkan kemudaratan dan kegiatan usaha yang melahirkan penderitaan.
Kemudian akan berserikat dengannya dari mereka dalam harta dan anak-anak, yaitu
orang-orang yang jika memakan makanan, meminum air dan melangsungkan
pernikahan, maka mereka tidak menyebut nama Allah.
Allah
Ta’ala berfirman, “… dan beri janjilah mereka” , yakni perintahkanlah kepada
mereka agar mendustakan Ba’ats (kebangkitan dari kubur) serta adanya balasan
pahala, tidak menggiring mereka kepada kebaikkan, menakut-nakuti mereka dengan
para kekasihmu dan menakut-nakuti mereka ketika akan mengeluarkan infak yang
bermanfaat dengan menggiring mereka kepada kekejian dan kebakhilan. Ketentuan
itu berasal dari Allah untuk memperlihatkan sejumlah hikmah dan rahasia yang
besar.
Sesungguhnya
kamu, hai musuh yang nyata (Iblis), bahwa kemampuanmu tidak akan tersisa
sedikitpun dalam menyesatkan mereka. Orang jahat dari mereka akan terlihat
kejahatan dan keburukannya, dan Allah tidak akan mempedulikannya.
Sesungguhnya
keturunan Nabi Adam AS terutama para nabi dan para pengikut mereka yang terdiri
dari orang-orang yang jujur, orang-orang yang menjaga kesucian diri, para wali
dan orang-orang mukmin niscaya Allah Ta’ala tidak memberikan kekuasaan kepada
Iblis untuk menyesatkan mereka. Bahkan Allah Ta’ala mendirikan untuk mereka
sebuah benteng yang diliputi perlindungan serta jaminan-Nya, dan membekali
mereka senjata yang tidak mungkin sanggup diterjang musuh yaitu keimanan kepada
Allah dan kekuatan tawakkal mereka kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan Allah
dalam firman-Nya, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasannya atas
orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.” (an-Nahl: 99)
Selain itu
Allah telah membantu mereka untuk menentang musuh tersebut (Iblis) dengan
beberapa cara, yaitu:
1.
Allah telah menurunkan kepada
mereka Kitab-Nya yang mencakup ilmu-ilmu yang bermanfaat dan nasehat-nasehat
yang meninggalkan kesan dan memberikan pengaruh serta memberikan dorongan untuk
mengerjakan sejumlah kebaikan dan mewanti-wanti dari mengerjakan sejumlah
keburukan.
2.
Allah telah mengutus para rasul
kepada mereka untuk memberikan kabar gembira kepada orang yang beriman kepada
Allah dan taat kepada-Nya dengan balasan pahala yang kontan dan memperingatkan
orang yang kufur, mendustakan ayat Allah dan berpaling dari jalan-Nya dengan
siksaan yang bermacam-macam. Kemudian menjamin orang yang mengikuti
petunjuk-Nya yang diturunkan kepadanya melalui kitab-Nya serta mengutus para
rasul-Nya kepadanya supaya tidak tersesat di dunia dan tidak sengsara di
akhirat serta baginya tidak ada ketakutan dan tidak ada kesedihan yang
memilukannya.
3.
Allah telah memberikan bimbingan
kepada mereka yang tertera dalam kitab-Nya serta melalui lisan para rasul-Nya
supaya mengerjakan langkah-langkah yang dapat mengalahkan musuh mereka (Iblis),
dan menjelaskan kepada mereka tentang hal-hal yang diserukan syetan dan
jalan-jalannya yang dapat menyebabkan khalifah (manusia) menjadi mangsa
buruannya.
4.
Sebagaimana halnya Allah telah
membimbing mereka dengan menjelaskan hal-hal yang diserukan syetan dan
jalan-jalannya, maka Allah juga telah membimbing mereka ke jalan yang akan
menyelamatkan mereka dari kejahatan dan fitnahnya dan menolong mereka untuk
mewujudkannya dengan pertolongan takdir yang di luar kemampuan mereka. Karena
ketika mereka mengerahkan seluruh usaha mereka serta memohon pertolongan kepada
Rabb mereka, niscaya Allah sebagai Rabb mereka akan memberi kemudahan kepada
mereka dalam menempuh semua jalan yang dapat menyampaikan mereka kepada tujuan
yang dimaksud.
5.
Allah menyempurnakan ni’mat-Nya
kepada Nabi Adam AS dengan diciptakannya Hawa sebagai pasangan dari jenisnya
dan sesuai dengan wujudnya agar ia merasa senang kepadanya dan Allah pun
menyempurnakan sejumlah tujuan yang bermacam-macam melalui proses perkawinan,
perkumpulan dan penjagaan keturunan melalui proses perkawinan tersebut.
Allah SWT
berfirman kepada Nabi Adam AS dan istrinya: “Sesungguhnya syetan itu ialah
musuh kamu berdua, hendaklah kamu berdua berhati-hati kepadanya, sehingga
jangan sampai syetan itu mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang Allah telah
menempatkan kamu berdua di dalamnya; dan Allah telah membolehkan kamu berdua
memakan seluruh buah-buahan dan meni’mati seluruh keni’matannya, kecuali hanya
satu pohon yang dilarang Allah di dalam surga tersebut, dimana Allah telah
mengharamkannya kepada keduanya, seraya berfirman, “Hai Adam, bertempat
tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan)
dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,
lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim.” (al-A’raf: 19)
Allah
berfirman kepada Nabi Adam AS dalam meni’mati seluruh ni’mat yang tersedia di
dalam surga: “Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan
ditimpa panas matahari di dalamnya.” (Thaha: 118-119)
Keduanya
tinggal di dalam surga tersebut sesuai dengan kehendak Allah; sebagaimana yang
telah dijelaskan Allah bahwa musuh keduanya selalu mengawasi atau mengintai
keduanya dan menunggu kesempatan untuk menggoda keduanya.
Ketika
Iblis melihat kebahagiaan pada diri Nabi Adam AS dengan dimasukan ke dalam
surga dan keinginannya yang besar untuk tetap kekal di dalamnya, maka Iblis
menemuinya dengan cara yang halus dalam wujud seorang teman yang akan
memberikan nasehat, seraya berkata, “Hai Adam, apakah kamu ingin aku tunjukkan
ke suatu pohon yang jika kamu memakan buahnya, maka kamu akan kekal dalam surga
ini. Sedang Rabb Yang Maha Kuasa tidak menghendakimu kekal di dalamnya.”
Iblis
senantiasa berusaha membisikan pikiran-pikiran jahat, merayu, menggoda,
membujuk, berjanji, bersumpah dan menasehati keduanya dengan nasehat yang
nyata-nyata sebagai tipu daya yang besar; sehingga akhirnya keduanya terpedaya
dan memakan buah pohon yang dilarang atau diharamkan Allah atas keduanya.
Ketika
keduanya memakan buah pohon itu, maka tampaklah aurat keduanya yang sebelumnya
tertutupi, sehingga keduanya memetik daun-daun dari surga untuk menutupi aurat
keduanya. Yakni menempelkan daun-daun surga itu untuk menutupi badan keduanya
yang telanjang sebagai pengganti pakaian.
Seketika
itu juga turun dan tampak di hadapan keduanya akibat pelanggaran yang telah
dilakukan keduanya, sehingga Rabb keduanya menegur keduanya, seraya berfirman,
“Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan
kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.”
(al-A’raf: 22)
Allah
Ta’ala menumbuhkan dalam hati keduanya keinginan untuk bertaubat yang
sesungguhnya dan memohon ampunan yang sejujurnya, sebagaimana ditegaskan oleh
Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari
Rabb-nya.” (Al-Baqarah: 37). Selanjutnya “keduanya berkata, “Ya Rabb kami, kami
telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan
memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang
merugi.” (al-A’raf: 23)
Kemudian Allah
menerima taubat keduanya dan menghapus dosa yang telah diperbuat keduanya, akan
tetapi Allah tetap memberikan peringatan atas perbuatan dosa tersebut; yaitu
dengan mengeluarkan keduanya dari surga karena memakan buah dari pohon yang
telah ditetapkan. Keduanya dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi yang
kebaikannya datang silih berganti dengan keburukannya, kebahagiaannya datang
silih berganti dengan penderitaannya.
Allah juga
mengabarkan kepada keduanya, bahwa Dia akan menguji keduanya dan keturunan
keduanya, dimana bagi orang yang beriman dan beramal shalih, niscaya akan
mendapatkan balasan yang lebih baik dari keadaannya semula, sedang bagi orang
yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari jalan-Nya, niscaya akan
memperoleh balasan akhir yang buruk yaitu penderitaan yang abadi dan siksaan
yang kekal.
Allah
Ta’ala mewanti-wanti kepada keturunan keduanya supaya waspada terhadap godaan
dan tipu daya syetan, seraya berfirman, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali
kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu
bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk
memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan
pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat
mereka.” (al-A’raf: 27)
Allah
memerintahkan kepada keduanya supaya mengganti pakaian keduanya yang dilepaskan
oleh syetan dengan pakaian yang dapat menutupi aurat keduanya. Dengan pakaian
tersebut maka tercapailah keindahan lahiriyah dalam kehidupan. Akan tetapi
pakaian yang lebih tinggi kedudukannya dari pakaian tersebut adalah pakaian
takwa yang menjadi pakaian hati dan ruh, yaitu: keimanan, keikhlasan, taubat
dan menghiasi diri dengan semua akhlak terpuji dan menjauhkan diri dari semua
akhlak tercela.
Kemudian
Allah mengembangbiakkan keturunan dari Nabi Adam AS dan Hawa istrinya yang
terdiri dari kaum laki-laki dan kaum wanita dalam jumlah yang banyak,
menyebarluaskan mereka di muka bumi dan menjadikan mereka sebagai khalifah di
dalamnya untuk melihat bagaimanakah mereka beramal.
Allah SWT
berfirman dalam surat
al-Kahfi, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah
kamu kepada Nabi Adam AS”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari
golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia
dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka
adalah musuhmu Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi
orang-orang yang zalim.” (al-Kahfi: 50).
Al-Hafizh
Ibnu Katsir berkata dalam kitabnya al-Bidaayah Wa an-Nihaayah (1/72-73): “Iblis
keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan sengaja dan menunjukkan
keingkaran atau kesombongannya dengan menolak perintah-Nya. Tidaklah Iblis
menunjukkan sikap tersebut, kecuali ia telah mengkhianati tabi’atnya serta
materi jasadnya, dimana materi yang jelek akan membutuhkan sesuatu yang dapat
menutupi kejelekkannya, dan ia adalah mahluk yang diciptakan dari api
sebagaimana Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya. Juga sebagaimana telah
dijelaskan dalam kitab Shahîh Muslim dari Aisyah RA dari Rasulullah SAW, seraya
bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api dan Nabi
Adam AS diciptakan dari apa yangtelah digambarkan kepada kalian (dari tanah).”
Adapun di antara
faidah yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah:
1.
Sesungguhnya kisah besar ini telah dipaparkan Allah di dalam kitab-Nya dalam
beberapa tempat (ayat) dengan paparan yang jelas yang di dalamnya tidak ada
keraguan dan termasuk kisah yang sangat besar yang disepakati para rasul,
kitab-kitab suci samawi diturunkan karenanya dan seluruh pengikut para nabi
dari mulai yang pertama hingga yang terakhir telah meyakini kebenarannya.
Dewasa ini
muncul sekelompok zindiq yang mengingkari seluruh ajaran yang dibawa para
rasul, mengingkari adanya Pencipta (Rabb) serta tidak mempercayai ilmu kecuali
ilmu alam (fisika); sehingga pengetahuan mereka tidak akan dapat mengantarkan
kepada keyakinan tersebut, karena pengetahuan mereka sangat terbatas.
Berkenaan dengan
madzhab yang jauh dari kebenaran ini; baik menurut syara’ maupun akal sehat,
bahwa mereka telah mengingkari keberadaan Nabi Adam AS dan Hawa dan keterangan
yang dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang keberadaan keduanya.
Sedangkan
di antara mereka yang pendapatnya dianggap sesat adalah orang-orang yang
berpendapat bahwa manusia mengalami perkembangan dan kemajuan dalam masalah
akidah, sebagaimana berkembang dan majunya teknologi. Dengan pendapat tersebut,
mereka bermaksud menafikan sejarah akidah, sebagaimana yang dijelaskan
Al-Qur’an dalam kisah Nabi Adam AS dan Iblis dan menafikan wahyu dan para
rasul.
Mereka
beranggapan bahwa manusia itu berasal dari kera atau sejenisnya, kemudian ia
berevolusi sehingga mencapai wujudnya yang sekarang.
Mereka
terpedaya oleh teori mereka yang sangat keliru yang didasarkan pada asumsi akal
mereka yang sejak semula telah rusak dan mengabaikan keterangan yang bersumber
dari ilmu-ilmu yang benar, khususnya ilmu-ilmu yang dibawa para rasul.
Allah
Ta’ala telah menegaskan tentang kebenaran ilmu-ilmu yang dibawa para rasul
dalam firman-Nya, “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-sasul (yang dulu
diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa
senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab
Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (Al-Mukmin: 83).
Keberadaan
mereka sangatlah jelas bagi kaum muslimin yang berilmu dan orang-orang yang
percaya adanya Pencipta, bahwa mereka adalah kelompok paling sesat. Tetapi
sebagian pengaruh pendapat madzhab atheis itu dan pendapat-pendapat lainnya
yang merujuk pendapat madzhab itu telah diminumkan dan dicekokkan kepada
sebagian kaum muslimin.
Ketika
sekolompok intelektual muslim yang menamakan diri sebagai kelompok modernis
menafsirkan tentang sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam AS dengan makna
tunduknya alam ini kepada manusia, dimana benda-benda bumi, barang tambang dan
sejenisnya telah ditundukan Allah Ta’ala kepada manusia. Itulah makna sujud
para malaikat kepada Nabi Adam AS.
Orang yang
beriman kepada Allah dan hari akhir niscaya tidak akan ragu bahwa pendapat itu
bersumber dari pemikiran yang rusak dan bertentangan dengan kitab Allah
(Al-Qur’an), dimana tidak ada perbedaan di antara penentangannya dengan penentangan
yang dilakukan aliran kebatinan dan Qaramithah (salah satu sekte Syi’ah). Jika
penafsiran kisah di atas dimaknai dengan makna tersebut, maka penyimpangan
tersebut dapat terjadi pada kisah-kisah Al-Qur’an yang lainnya dan Al-Qur’an
akan beralih fungsi yang tadinya sebagai penjelas atas segala sesuatu, petunjuk
serta rahmat menjadi sebuah simbol yang memungkinkan semua musuh Islam
memperlakukannya dengan perlakuan tersebut, sehingga aturan-aturan hukum
Al-Qur’an dapat dibatalkan dengan penafsiran tersebut. Selain itu petunjuk
Al-Qur’an akan berubah menjadi kesesatan dan rahmatnya berubah menjadi
malapetaka. Maha Suci Engkau, Ya Allah. Sesungguhnya perbuatan tersebut
merupakan kebohongan yang besar.
Bagi
seorang mukmin dalam menyikapi penafsiran semacam itu, maka cukup baginya
dengan membatilkan pemikiran atau pendapat keji tersebut dan berpaling kepada
keterangan yang dijelaskan Allah kepada kita tentang sujudnya para malaikat
kepada Nabi Adam AS, sehingga ia mengetahui bahwa pendapat itu dimaksudkan
untuk menafikan keterangan yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya
keindahan tutur kata para pemeluk madzhab tersebut hanya menarik perhatian
orang yang berprasangka baik kepada mereka, sedangkan seorang mukmin tidak akan
membiarkan keimanannya serta kitab suci Rabb-nya dinodai oleh pendapat yang
mengandung tipuan para pengikut madzhab tersebut.
2.
Faidah lainnya berkaitan dengan keutamaan ilmu, dimana sikap para malaikat saat
ditunjukan kepada mereka keutamaan Nabi Adam AS dengan ilmunya maka mereka
mengakui keutamaan dan kesempurnaannya, sehingga berhak mendapat pernghormatan
dan pengagungan.
3.
Bahwa orang yang dikaruniai ilmu oleh Allah wajib mengakui ni’mat Allah yang
telah dikaruniakan kepadanya dan semestinya ia berkata sebagaimana perkataan
para malaikat dan para rasul, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” (Al-Baqarah: 32).
Selain itu sudah semestinya baginya memelihara perkataannya dari segala hal
yang tidak diketahuinya. Ilmu termasuk ni’mat yang sangat besar, dan cara
mensyukurinya adalah mengakuinya sebagai milik Allah, memuji-Nya,
mempelajarinya, mengajari orang bodoh, memahamkan sesuatu hal yang telah
diketahui kepada seseorang dan berdiam diri dari sesuatu hal yang tidak
diketahuinya.
4.
Bahwa Allah menjadikan kisah tersebut sebagai pelajaran bagi kita, dimana
kesombongan, kedengkian dan ketamakan adalah akhlak yang sangat berbahaya bagi
seorang hamba, karena kesombongan dan kedengkian Iblis kepada Nabi Adam AS telah
mengubah keadaannya sebagaimana telah anda ketahui serta ketamakan Nabi Adam AS
dan Hawa istrinya telah mendorong keduanya memetik buah pohon yang dilarang.
Jika saja tidak ada rahmat Allah kepada keduanya, niscaya keduanya akan
terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Dengan adanya rahmat Allah, sehingga
yang kurang menjadi sempurna, yang kalah menjadi menang, yang binasa menjadi
selamat dan yang hina menjadi mulia. Al-Hafizh Ibnu Al-Qayyim berkata dalam
kitabnya Al-Fawaa`id (hal. 105): “Sumber kesalahan semuanya ada tiga hal,
yaitu:
Kesombongan,
sifat yang menyebabkan Iblis mengalami akibat sebagaimana dijelaskan di atas.
Ketamakan, sifat yang menyebabkan Nabi Adam AS AS dikeluarkan dari surga.
Kedengkian, sifat yang menyebabkan seseorang bertindak lalim (lancang) kepada
saudaranya.
Barangsiapa
yang terjerumus ke dalam kejelekkan ketiga sifat tersebut, niscaya ia telah
jatuh ke dalam kejelekkan. Kekufuran bersumber dari kesombongan, kema’siatan
bersumber dari ketamakan dan kelancangan dan kelaliman bersumber dari
kedengkian.”
5.
Bahwa diwajibkan atas seseorang ketika jatuh ke dalam perbuatan dosa untuk
segera bertaubat dan mengakui dosa yang diperbuatnya serta mengucapkan ucapan
sebagaimana yang diucapkan kedua ibu bapaknya (yakni Nabi Adam AS dan Hawa)
dengan hati yang ikhlas dan bertaubat dengan benar. Tidaklah Allah menceritakan
taubat keduanya, kecuali supaya kita mengikuti taubat keduanya, sehingga kita
mendapatkan kebahagiaan dan diselamatkan dari kebinasaan. Juga tidaklah Allah
Ta’ala menceritakan kepada kita tentang hal-hal yang dibisikan syetan dari
sesuatu yang dijanjikan kepada kita dan tipu daya yang dihembuskannya untuk
menyesatkan kita yang dilakukannya dengan berbagai cara, kecuali supaya kita
waspada terhadap musuh tersebut yang secara terang-terangan dan terus-menerus
menunjukan permusuhannya.
Allah
mencintai kita dengan memerintahkan kita supaya melawan Iblis dengan
mengerahkan segenap kemampuan menjauhi jalannya dan garis-garis kebijakannya
dan melakukan hal-hal yang akan menumbuhkan perasaan takut akan terjatuh ke
dalam perangkapnya, melakukan amalan-amalan yang menjadi benteng pelindung
seperti: wirid-wirid yang shahih, dzikir hati dan ta’awudz yang bermacam-macam,
menyiapkan senjata penghancur perangkapnya berupa iman yang benar serta
kekuatan tawakal kepada Allah, mengabaikan kebenciaannya terhadap amal-amal
kebaikan dan menentang bujukannya dan pikiran-pikiran keji yang selalu
dihembuskannya setiap saat ke dalam hati dengan melakukan perbuatan yang
sebaliknya dan yang membatalkannya seperti ilmu-ilmu yang bermanfaat dan
melakukan segala hal yang benar.
6.
Bahwa di dalam kisah di atas terdapat dalil bagi madzhab Ahlussunnah Wal
Jama’ah yang menetapkan bagi Allah sesuatu yang telah ditetapkan-Nya untuk
Dzat-Nya seperti nama-nama yang baik (Asmmaa`ul Husnaa) dan sifat-sifat secara
keseluruhan, tanpa membedakan di antara sifat-sifat Dzat dan sifat-sifat
perbuatan.
7.
Menetapkan dua tangan bagi Allah seperti disebutkan dengan jelas di dalam kisah
Nabi Adam AS, “Lammaa Khalaqtu Bi Yadayya (… yang telah Ku-ciptakan dengan
kedua tangan-Ku).” (Shaad: 75). Yakni Allah memiliki dua tangan menurut makna
yang hakiki yang tidak serupa dengan tangan mahluk, seperti halnya Dzat-Nya
tidak serupa dengan dzat mahluk serta sifat-sifat-Nya tidak serupa dengan
sifat-sifat mahluk.
Ahlussunnah
sepakat bahwa Allah Ta’ala memiliki dua tangan yang selalu terbentang
memberikan karunia serta keni’matan, dan keduanya merupakan sifat dzatiyah yang
tetap bagi-Nya menurut kepatutan; dan mereka sepakat bahwa keduanya adalah
tangan dalam arti hakiki yang tidak serupa dengan tangan mahluk serta tidak
boleh mengalihkan makna keduanya kepada makna kekuasaan, ni’mat serta makna
lainnya karena beberapa alasan, yaitu:
Pertama,
mengalihkan pembicaraan dari makna hakiki ke makna majazi (kiasan) tanpa dalil.
Kedua,
makna tersebut tidak sesuai secara bahasa dalam konteks kalimat seperti firman
Allah: “Lammâ Khalaqtu Bi Yadayya (… yang telah Ku-ciptakan dengan kedua
tangan-Ku) dan tidak tepat menggantinya dengan makna: “Lammâ Khalaqtu Bi
Ni’matî Au Quwwatî (yang telah Ku-ciptakan dengan ni’mat-Ku atau kekuasaan-Ku)
.
Ketiga,
adanya penyandaran kata yadd kepada kata Allah dalam bentuk Tatsniyyah (kata
yang menunjukkan makna dua), dan tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
pada satu tempat pun menyandarkan kata ni’mat atau quwwah kepada kata Allah
dalam bentuk Tatsniyyah, sehingga bagaimana mungkin menafsirkan kata yang satu
dengan kata yang satunya lagi?
Keempat,
Jika yang dimaksud dengan kedua tangan dalam konteks tersebut adalah kekuasaan,
maka entunya dipandang sah mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan
Iblis dengan kekuasaan-Nya” dan perkataan sejenisnya. Seandainya dibolehkan,
niscaya Iblis akan berargumen dengan perkataan itu kepada Rabb-nya ketika berfirman
kepadanya, “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah
Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (Shaad: 75).
Masih
banyak alasan lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat merujuk kitab Al-Fatwa
Al-Hamawiyyah, karya Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dan ringkasannya karya Ibnu
‘Utsaimin.
No comments:
Post a Comment