Tuesday, April 26, 2016

💌 Penawar Nestapa



Kau coba tuk kembalikan masa..

Mengutip serpihan-serpihan kaca..
Merekat cermin hati yang telah retak…

Sia-sia sahabat…
Biarkan rinai hujan membasuh lukamu…
Bersihkan piranti-piranti hati yang terkoyak.

Sekelam apapun mendung yang pernah berarak melewatimu…
Bukankah bias mentari setelah hujan membawa pelangi yang indah…..?
Bukankah setelah badai kan tampak rona lazuardi yang terang…?
Bukankah lahar dan lava yang dahsyat kelak menyuburkan bumi..?

Tak perlu sesali goresan takdir yang merenggut segala yang kau cinta..
Sebab tangisan tidak akan pernah menghidupkan yang mati….
Sebab duka nestapa tidak kan mengembalikan orang yang pergi…

Semilir angin masih tetap setia berhembus..
Kidung senja masih tetap indah melantunkan kicauan burung yang kembali ke sarang…
Dawai-dawai kehidupan harus tetap berjalan.

Tataplah hari esok….
Niscaya kan terbit terang setelah gelap..
Fainna ma’al ‘usri..yusra..
Sungguh setelah kesulitan akan datang kemudahan…

🌠💭DOA TERKAIT TIDUR💭🌠

Bismillaahirrahmaanirrahiim

🖌Doa Tidur 1 (Al-Mu'awwidzaat)

Mengumpulkan dua telapak tangan. Lalu ditiup dan dibacakan surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. Kemudian dengan dua telapak tangan mengusap tubuh yang dapat dijangkau dengannya. Dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan 3x.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤﴾

(1) Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.
(2) Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan.
(3) Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan.
(4) Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.
(Al-Ikhlas [112]: 1-4).

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾

(1) Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh.
(2) Dari kejahatan makhluk-Nya.
(3) Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.
(4) Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.
(5) Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.
(Al-Falaq [113]: 1-5).

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾

(1) Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia.
(2) Raja manusia.
(3) Sembahan manusia.
(4) Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi.
(5) Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
(6) Dari jin dan manusia.
(An-Naas [114]: 1-6).

📚HR. Al-Bukhari 9/62 dengan Fathul Baari dan Muslim 4/1723.

📝متى تجب الزكاة في الغنم وكما نصابها ؟



🔴السؤال:
  جزاكم الله خيراً فضيلة الشيخ. السائل أبو حسام من تعز يقول في هذا السؤال: متى تجب الزكاة في الغنم، وهل لها عدد محدد حتى تجب الزكاة فيها، أم أن الزكاة تجب عليها حتى ولو كانت واحدة وحال عليها الحول؟

🔵الجواب:
اقتناء الغنم على وجهين؛
الوجه الأول:
اقتناؤها للدر والنسل، فهذه لا زكاة فيها حتى تبلغ أربعين، وزكاة الأربعين واحدة من أربعين. ولا تجب الزكاة فيها حتى تكون سائمة، أي راعية أي تعيش على المرعى دون أن تعلف إما الحول كله وإما أكثر الحول.

أما النوع الثاني من اقتناء الغنم فهو :
اقتناء التجار الذين يتجرون بالغنم، يشتري هذه الشاة ويبيعها ويشتري الشاة الثانية ويبيعها، هذه فيها زكاة إذا بلغت نصاباً في القيمة، ولو لم تكن إلا واحدة.
فإذا قدرنا أن إنسان رأس ماله قليل ليس عنده إلا عشرٌ من غنم ويبيع ويشتري فيها، ففيها الزكاة حتى لو تناقصت إلى واحدة ولكن قيمة

📙Keutamaan Membaca Al Qur'an



🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒

Sebagian orang malas membaca Al Quran padahal di dalam terdapat petunjuk untuk hidup di dunia.

Sebagian orang merasa tidak punya waktu untuk membaca Al Quran padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar.

Sebagian orang merasa tidak sanggup belajar Al Quran karena sulit katanya, padahal membacanya sangat mudah dan sangat mendatangkan kebaikan. Mari perhatikan hal-hal berikut:

Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi

{الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)}

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

قال قتادة  رحمه الله: كان مُطَرف، رحمه الله، إذا قرأ هذه الآية يقول: هذه آية القراء.

“Qatadah (wafat: 118 H) rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran” (Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim).

Asy Syaukani (w: 1281H) rahimahullah berkata,

أي: يستمرّون على تلاوته ، ويداومونها .

“Maksudnya adalah terus menerus membacanya dan menjadi kebiasaannya”(Lihat kitab Tafsir Fath Al Qadir).

Dari manakah sisi tidak meruginya perdagangan dengan membaca Al Quran?

Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan.
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضى الله عنه قَالَ : تَعَلَّمُوا هَذَا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ بِتِلاَوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ ، أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ بِ الم وَلَكِنْ بِأَلِفٍ وَلاَمٍ وَمِيمٍ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ.

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم  , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan.” (Atsar riwayat Ad Darimy dan disebutkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 660)

Dan hadits ini sangat menunjukan dengan jelas, bahwa muslim siapapun yang membaca Al Quran baik paham atau tidak paham, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan. Dan sesungguhnya kemuliaan Allah Ta’ala itu Maha Luas, meliputi seluruh makhluk, baik orang Arab atau ‘Ajam (yang bukan Arab), baik yang bisa bahasa Arab atau tidak.

Kebaikan akan menghapuskan kesalahan.

{إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ} [هود: 114]

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)

Setiap kali bertambah kuantitas bacaan, bertambah pula ganjaran pahala dari Allah.

عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ»

"ISTIQOMAH"


عن أبي عمرو وقيل : أبي عمرة سفيان بن عبدالله الثقفي رضي الله عنه – قال : يا رسول الله , قل لي في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً غيرك, قال " قل آمنت بالله ثم استقم " رواه مسلم

Dari Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdullah radhiyallahu anhu, ia berkata : " Aku telah berkata : ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu’. Bersabdalah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Katakanlah : Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu’ “.
(Muslim no. 38)

Kalimat “katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu”, maksudnya adalah ajarkanlah kepadaku satu kalimat yang pendek, padat berisi tentang pengertian Islam yang mudah saya mengerti, sehingga saya tidak lagi perlu penjelasan orang lain untuk menjadi dasar saya beramal. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Katakanlah : ‘Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu’ “. Ini adalah kalimat pendek, padat berisi yang Allah berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Dalam dua kalimat ini telah terpenuhi pengertian iman dan Islam secara utuh. Beliau menyuruh orang tersebut untuk selalu memperbarui imannya dengan ucapan lisan dan mengingat di dalam hati, serta menyuruh dia secara teguh melaksanakan amal-amal shalih dan menjauhi semua dosa. Hal ini karena seseorang tidak dikatakan istiqamah jika ia menyimpang walaupun hanya sebentar. Hal ini sejalan dengan firman Allah : “Sesungguhnya mereka yang berkata : Allah adalah Tuhan kami kemudian mereka istiqamah……”.(QS. Fushshilat : 30)
yaitu iman kepada Allah semata-mata kemudian hatinya tetap teguh pada keyakinannya itu dan taat kepada Allah sampai mati.

‘Umar bin khaththab berkata : “Mereka (para sahabat) istiqamah demi Allah dalam menaati Allah dan tidak sedikit pun mereka itu berpaling, sekalipun seperti berpalingnya musang”. Maksudnya, mereka lurus dan teguh dalam melaksanakan sebagian besar ketaatannya kepada Allah, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan dan mereka terus-menerus berbuat begitu (sampai mati). Demikianlah pendapat sebagian besar para musafir. Inilah makna hadits tersebut, Insya Allah.
Begitu pula firman Allah : “Maka hendaklah kamu beristiqamah seperti yang diperintahkan kepadamu”.(QS. Hud : 112)

Menurut Ibnu ‘Abbas, tidak satu pun ayat Al Qur’an yang turun kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang dirasakan lebih berat dari ayat ini. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda :
“Aku menjadi beruban karena turunnya Surat Hud dan sejenisnya”.

Abul Qasim Al Qusyairi berkata : “Istiqamah adalah satu tingkatan yang menjadi penyempurna dan pelengkap semua urusan. Dengan istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan. Orang yang tidak istiqamah di dalam melakukan usahanya, pasti sia-sia dan gagal”. Ia berkata pula : “Ada yang berpendapat bahwa istiqamah itu hanyalah bisa dijalankan oleh orang-orang besar, karena istiqamah adalah menyimpang dari kebiasaan, menyalahi adat dan kebiasaan sehari-hari, teguh di hadapan Allah dengan kesungguhan dan kejujuran. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ‘Istiqamahlah kamu sekalian, maka kamu akan selalu diperhitungkan orang’.

Al Washiti berkata : “Istiqamah adalah sifat yang dapat menyempurnakan kepribadian seseorang dan tidak adanya sifat ini rusaklah kepribadian seseorang”. Wallaahu a’lam.

بَارَكَ اللهُ فِيْك

Monday, April 25, 2016

🌾 KISAH-KISAH ISRA' DAN MIKRAJ 🌾



🌴 Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far dan Rauh bin Mu'in, keduanya mengata kan; telah menceritakan kepada kami Auf dari Zurarah bin Aufa, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ  bersabda:  setelah Rasulullah ﷺ menjalani Isra' pada malam hari, maka pada pagi harinya beliau berada di kota Mekah dengan perasaan bahwa orang-orang pasti akan mendustakannya.
Rasulullah ﷺ duduk sendirian dalam keadaan sedih. Kemudian melintas Abu Jahal dan meng hampirinya kemudian duduk bersamanya. Kemudian Abu Jahal berkata dengan sinis, "Apa kah ada berita baru?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya, ada" Abu Jahal berta nya, "Apakah berita itu?" Nabi ﷺ menjawab, "Tadi malam saya baru melakukan Isra' (perja lanan di malam hari)." Abu Jahal bertanya, "Kemana?" Nabi ﷺ men jawab, "Ke Baitul Maqdis." Kemudian Abu Jahal bertanya, "Lalu pagi harinya engkau berada di sini di antara kami?" Nabi ﷺ menjawab, "Ya." Abu Jahal tidak langsung menanggapi ucapan Nabi ﷺ juga tidak langsung mendustakannya; karena ia merasa  bila hal itu dicerita kan kepada kaumnya, mereka tidak akan percaya. Maka Abu Jahal berkata, "Bagaimanakah pendapatmu jika saya panggil kaummu? Apakah kamu akan menceritakan juga kepada mereka apa yang baru kamu ceritakan kepadaku?" Nabi ﷺ menjawab, "Ya." Lalu Abu Jahal berkata, "Hai seluruh orang-orang Bani Ka'b ibnu Luay!" Tidak lama kemudian orang-orang berdatangan ke tempat Nabi ﷺ Mereka datang dan langsung duduk di tempat tersebut (tempat Nabi ﷺ dan Abu Jahal). Kemudian Abu Jahal berkata, "Berceritalah kepada kaummu seperti yang telah engkau ceritakan kepadaku tadi." Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya tadi malam saya menjalani Isra'." Mereka bertanya, "Menuju ke mana?" Nabi ﷺ menjawab, "Ke Baitul Maqdis." Mereka bertanya, "Kemudian pagi harinya kamu berada disini diantara kami?" Nabi ﷺ menjawab, "Ya." Maka di antara mereka ada yang bertepuk tangan, ada pula yang meletakkan tangannya di atas kepala karena merasa heran mendengar kisah yang mereka anggap dusta itu. Kemudian mereka bertanya.”Dapatkah kamu menyebutkan ciri khas Masjidil Aqsa kepada kami." Di antara mereka ada orang yang pernah bepergian ke negeri itu dan melihat Baitul Maqdis. Rasulullah ﷺ bersabda; bahwa ia terus menerus menceritakan kepada mereka ciri-ciri khas masjid Masjidil Aqsa , hingga ada sebagian ciri khasnya yang terlupakan oleh Nabi ﷺ Lalu Masjidil Aqsa ditampakkan kepada Nabi ﷺ , dan Nabi ﷺ memandangnya, hingga gambar Masjidil Aqsa diletakkan di dekat rumah Aqil, atau Iqal. Maka Nabi ﷺ menyebutkan ciri-ciri khasnya seraya melihat ke arah gambaran tersebut. Perawi mengatakan bahwa ada suatu ciri khas yang terlupakan olehnya. Orang-orang Quraisy berkata, "Demi Allah, ciri khas yang disebut kannya mengenai Baitul Maqdis adalah benar."

📜 Imam Nasai menceritakan hadits melalui Auf bin Abu Jamilah yaitu Al-A'rabi dengan sanad yang sama.

📜 Imam Baihaqi meriwayatkannya juga melalui hadis An-Nadr bin Syumail dan Hauzah, dari Auf, yaitu dari Ibnu Abu Jamilah Al-A'rabi, salah seorang imam yang berpredikat tsiqah.

والله أعلم....

📚Di kutib dari Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Isra': 1

Sunday, April 24, 2016

🔴 Hukum Isti'adah dan Basmalah.

Isti'adah adalah bacaan Ta'awudz sebelum membaca Al Qur'an
أَعُوْذُبِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

Hukum membaca Isti'adah sebelum memulai tilawah hukumnya sunnah.
Alloh berfirman

فاَءِذاَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ (٩٨)
"Apabila kamu hendak membaca Al Qur'an maka berlindunglah kepada Alloh dari setan yang terkutuk." (QS An Nahl :98)

Lafadz Isti'adah diatas dapat ditambahkan dengan kata السَّمِيْعِ الْعَلِيمِ setelah kata بِاللَّهِ sehingga berbunyi menjadi

أَعُوْذُ باِللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
Adapun membaca basamallah sangat dianjurkan (Mustahabbah), baik di awal surat atau pertengahan surat. Kecuali disurat At Taubah. Baik dilakukan dengan suara keras ataupun pelan.  Sebagian ulama Qiraat memberinya hukum Wajib Sina'i, artinya kewajiban yg apabila ditinggalkan tidak berdosa. Istilah tersebut karena Rasulullah menganjurkan membaca Basmalah, sebagaimana sabda beliau

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ باَلٍ لاَ يُبْدَأُ بِسْمِ اللّٰهِ الرِّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَقْطَعُ
"Setiap perkara yang mempunyai Nilai yg tidak dimulai dengan Basmalah maka terputus lah (barokahnya) "
Cara membaca Isti'adah, basamallah dan awal surat

⬅️قطْعُ الْجَمِيْعِ
Membaca Isti'adah, Basmalah, dan surat secara terpisah misalnya

أَعُوْذُباللَّهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ🔸
بِسْمِ اللّٰهِ الرِّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 🔸
قُلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ 🔸

⬅️وصْلُ الْجَمِيْعِ
Membaca Isti'adah, Basmallah,dan surat secara bersambung misalnya

أَعُوْذُباللَّهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرِّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ

⬅️  قطْعُ الأَوَّلِ وَوَصلُ الثَّانِى بالثّالِثِ
Membaca Isti'adah secara terpisah dengan Basmallah dan surat, misalnya

أَعُوْذُباللَّهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ 🔸 بسْمِ اللّٰهِ الرِّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ🔸

⬅️وصْلُ الأَوَّلِ بِالثَّانِى
Menyambung Isti'adah dan Basmalah sementara surat dibaca terpisah misalnya
أَعُوْذُباللَّهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرِّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ🔸قلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ

⏺ Cara menyambung antara dua surat.

⬅️ قطْعُ الْجَمِيْعِ
Membaca akhir surat, Basmallah dan surat yang baru secara terpisah. Misalnya :
فِيْ جِيْدِهاَحَبْلٌ مِّن مَّسَدِ🔸بسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ🔸قلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ🔸

⬅️ وصلُ الْجَمِيْعِ
Membaca surat, Basmallah, dan surat yang baru secara tersambung. Misalnya
فِيْ جِيْدِهاَحَبْلٌ مِّن مَّسَدِ بِسْمِ اللّٰهِ الرِّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ🔸
Adapun menyambung surat Al Anfal dan At Taubah boleh secara terpisah, bersambung dia terpisah tanpa nafas (dengan cara saktah) 

Contoh

⏺ Terpisah
إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍعَلِيْمٌ 🔸برَآةٌمِّنَ اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ
⏺ Bersambung
إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍعَلِيْمٌ بَرَآةٌمِّنَ اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ

⏺ Terpisah tanpa bernafas
إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍعَلِيْمٌ🔸برَآةٌ مِّن اللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ

⬅️قطْعُ الأَوَّلِ َووََصلُ الثَّانِى بِالثَّالِثِ
Berhenti ketika selesai surat, kemudian membaca basamallah disambung dengan surat yang baru, misalnya

فِيْ جِيْدِهاَحَبْلٌ مِّن مَّسَدِ🔸بسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ🔸
Adapun menyambung akhir surat dengan Basmallah, kemudian berhenti dan memulai surat yang baru adalah satu cara yang tdk dibenarkan, karena terkesan basamallah itu bagian dari surat secara keseluruhan.  Contoh

فِيْ جِيْدِهاَحَبْلٌ مِّن مَّسَدِ بِسْمِ اللّٰهِ الرِّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ🔸 قلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ🔸

🔸🔸🔸🔸🔹🔹🔹🔹🔸🔸🔸
Demikian yg kami sampaikan. Apabila ada pertanyaan kritik dan saran silahkan kontak @Aushof.. 

🏵Jazakumulloh Khairan katsira 🏵

🔹🔹🔸🔹🔹🔸🔸🔹🔸🔹

🔴 Makhorijul Huruf.

Dalam pembahasan tentang Makhorijul Huruf. Untuk mempermudah dalam mempelajari Makhorijul Huruf Ulama Qiraat sepakat menyangkan pengucapan setiap huruf dalam bentuk tulisan dan Sedikit keterangan yg nanti bisa di lihat Pada gambar dibawah.. Dan yg pasti. Jika anda ingin sesuai standar dalam pengucapan Makhorijul Huruf perlu latihan berulang ulang. Dan latihan yg efektif yaitu dengan membaca Al Qur'an. Maka jika rutin dalam membaca Al Qur'an dengan Mengaplikasikan pelajaran ini dalam membaca Al Qur'an. Insya Alloh akan mudah dan terbiasa dalam pengucapan nya.

Secara global Makhorijul Huruf ada 5 Tempat

1. Rongga ➡️ ألْجَوْفُ
2. Tenggorokan Mulut ➡️ ألْخَلْقُ
3. Lidah ➡️ اللِّساَنُ
4. Dua bibir ➡️ ألشَّفَتَانِ
5. Rongga Hidung ➡️ ألْخَيْسُوْمُ

Sedangkan secara terperinci berjumlah 17,yaitu :


♦️ Yang keluar dari Rongga mulut adalah huruf huruf Mad :

🔹( ُـ/و) pengucapan dengan memonyongkan bibir

🔹(ـ/ئ) Pengucapan nya dengan menurunkan bibir bagian bawah

🔹( ـَ/ا) Pengucapan nya dengan membuka mulut


♦️ Yang keluar dari tenggorokan :

🔹Keluar dari Tenggorokan bawah (ء،ها)

🔹Keluar dari Tenggorokan Tengah (ع،ح)

🔹Keluar dari tenggorokan atas (خ،غ)


♦️Huruf yg keluar dari lidah

🔹Keluar dari pangkal Lidah (dekat Tenggorokan) dengan mengangkat ke atas langit langit (ق)

🔹Seperti Makhraj Huruf qaf tapi pangkal lidah diturunkan (ك)

🔹Keluar dari tengah lidah bertemu dengan langit langit(ج،ش، ي) 

🔹Keluar dari dua sisi lidah atau salah satunya bertemu dengan gigi graham (ض)

🔹Keluar dengan menggerakkan semua lidah dan bertemu dengan ujung langit langit (ل)

🔹Keluar dari ujung lidah di bawah Makhraj huruf lam (ن)

🔹Keluar dari ujung lidah, hampir sama seperti dengan memasukkan lidah (ر)

🔹Keluar dari ujung lidah bertemu dengan gigi bagian atas (ط،د، ت)

🔹Keluar dari ujung lidah. Ujung lidah keluar sedikit dan bertemu dengan ujung gigi depan bagian atas (ظ،ذ، ث)

🔹Keluar dari ujung lidah yang hampir bertemu dengan gigi depan bagian bawah (ص،س، ز)


♦️Keluar dari bibir (أَلشَّفَتَانِ)

🔹Keluar dari bibir bawah bagian dalam. Bertemu dengan ujung gigi seri atas (ف)

🔹Huruf mim dan ba' Keluar dari dua bibir yang dirapatkan, sedangkan Wawu dengan memonyongkan bibir (م، ب، و)


♦️ Yang keluar dari Rongga hidung (أَلْخَيْسُوْمُ)

Berupa huruf huruf gunnah

🔹Ghunnah Musyaddadah
🔹Idgham Bighunnah
🔹Lafadz Irkham Ma'ana (Idgham Mutajanisain)
🔹Idgham Mitslain
🔹Iqlab
🔹Ikhfa Haqiqi
🔹Ikhfa Syafawi

🔴 Sifat Sifat Huruf

Tujuan mempelajari sifat huruf adalah. Agar huruf yg keluar dari mulut kita semakin sesuai dengan keaslian huruf Al Quran itu sendiri. Huruf yg sudah tepat makhraj nya belum dapat dipastikan kebenaran nya sehingga sudah sesuai dengan sifat aslinya.

Ketika seorang mensukunkan huruf pada salag satu Lafadz,boleh jadi lidah nya sudah tepat pada posisinya,namun belum dikatakan benar sehingga ia mengucapkan sesuai dengan sifatnya. Contoh Lafadz 
Masjid baru sesuai dengan sifatnya apabila huruf Dal sudah di Qalqalah kan.

🌷 Sifat huruf ada 2

🍂Sifat yg mempunyai lawan kata
🍂Sifat yg tdk memiliki lawan kata

🍂 Sifat yg memilik lawan kata

1. Pertama

🔸Al Hamsu (أَلْهَمْسُ) Menurut bahasa adalah suara yg samar. Sedangkan menurut istilah adalah pengucapan yg disertai keluarnya nafas. Huruf huruf nya berjumlah 10

(ف،ح،ث،ه‍،ش،خ،ص،س،ك،ت)

 Agar lebih mudah dirangkai

فَحَثَهُ شَخْصٌ سَكَتَ

Lawan kata dari Al Hamsu

🔸Al Jahru (أَلْجَهْرُ) Menurut Bahasa artinya jelas. Sednagkan Menurut istilag adalah pengucapan huruf yang tidak disertai dengan keluarnya nafas. Huruf huruf nya ada 18,yaitu selain huruf أَلْهَمْسُ

2. Kedua

🔸As Syiddah (أَلْشِّدَّة) Menurut bahasa artinya Jelas. Sednagkan menutut istilah adalah pengucapan huruf dalam keadaan suara yg tertekan karena sangat bergantung kepada makhraj nya. Huruf huruf nya

أ،ج،د،ق،ط،ب،م،ت
Agar lebih mudah dirangkai

أَجِدْ قَطِ بَكَتْ

🔸At Tawassut (أَلتَّوَسُّطْ)

Menurut bahasa artinya sedang. Sedangkan menurut istilah pengucapan suara yang tidak terlalu tertahan sehingga terdengar agak lemah. Huruf huruf nya berjumlah 5

ل،ن،ع،م،ر
Agar lebih mudah dirangkai

لِنْ عُمَرْ

Ar Rokhowatu (أًلرَّخَاوَةُ)  Menurut bahasa adalah lemah. Sementara menurut istilah adalah pengucapan huruf yang disertai terlepasnya suara drngan bebas,karena tidak terlalu bergantung kepada makhrajnya. Huruf huruf berjumlah 15,selain أَلشِّدَةُ dan أَلتَّوَسُّطْ

3. Ketiga

🔸Isti'la (ُألإِْسْتِعْلاَء)

 Menurut bahasa aetinya terangkat, sedangkan menurut istilah adalah pengucapan huruf yg disertai terangkatnya lidah ke atas langit langit. Huruf huruf nya betjumlah 7

خ،ص،ض،غ،ط،ظ،ق

Agat mudah dihafal

خَصَّ ضَغْطٍ قِظْ

🔸Al Istifaal (أَلإِْسْتِفَالُ)

Menurut bahasa artinya menurun. Sedangkan menurut istilah adalah pengucapan huruf disertai turunya lifah dari langit langit. Huruf nya berjumlah 21, yaitu selain أَلإِْسْتِعْلاَءُ

4. Keempat

🔸Al Itbaq (أَلإِْطْبَاقْ)

Menurut bahasa artinya lengket. Sedangkan menurut istilah adalah pengucapan huruf dalam keadaan bertemunya lidah debgan langit langit. Huruf nya berjumlah 4. Yaitu

ص،ض،ط،ظ

🔸 Al Infitakh (الإِْنْفِتَاحُ)

Menutut bahasa artinya terpisah. Sedangkan menurut istilah adalah pengucapan huruf di sertai dengan menjauhkan dari langit langit. Huruf hurufnya berjumlah 23, yaitu أَلإِْطْبَاق

5. Kelima

🔸Al Idzlaq (ألإِذْلاَقُ)

Menurut bahaew artinya bagiaj lancip lidah. Sedangkan menurut idtilah adalah huruf yg pengucapan nya mudah keluar karena makhrsjnya dari ujung lidah dan bibir. Huruf nya berjumlah 6, Yaitu :

ف،ر،م،ن،ل،ب

Atau menjadi
فِرَّ مِنْ لُبٍّ

🔸Al Ishmaat (أَلإِْصْمَاتُ)

Menurut bahasa artinya tertahan. Sedangkan menurut istilah adalag huruf yg pengucapanya keluat dengan tertahan,karena relatif sulit. Biasanya huruf huruf ini selaku berada pada kata ruba'i (Yang terdiri dari 4 huruf) bersama huruf idzlaq. Kata yg hanya terdiri dari huruf Ishnat, biasanya bukan dari bahasa Arab asli,seperti lafadz عَسْجَدْ

Untuk sifat yg memlikiki lawan kata. Akan kita bahas di pertemun berikutnya.

SIFAT-SIFAT MAKHARIJUL HURUF

Sifat tersebut jumlahnya ada 7

🔸As Shofiir (أَلصَّفِيْرُ)

Menurut bahasa artinya suara yg mirip burung sedangkan menurut istilah adalah tambahan suara yg keluar dari dua bibir. Huruf huruf nya ada 3

ص،س،ر

🔸Al Qalqalah (أَلْقَلْقَلَةُ)

Menutut bahasa artinya bergetar. Sedangkan menurut istilah adalah pengucapan huruf sukun yang disertai dengan getaran suara pada Makhrajnya sehingga terdengar suara yang kuat. Huruf hurufnya ada 5

ق،ط،ب،ج،د
Atau disingkat قُطْبُ جَدٍ

Harus kelihatan lebih jelas dan kuat ketika waqaf pada huruf yg bertasydid.

وَتَبَّ - أَلْحَقُّ - أَلْحَجُّ

🔸Al Liinu menurut bahasa anrtibya lembut. Sedangkan menurut istilah adalah pengucapan huruf yg lembut tanpa harus mrmaksakan. Yaitu huruf ”Wau" dan "Ya" mati sebelumnya huruf harakat fathah, seperti خَوْفٌ - بَيْتٌ

🔸Al Inkhiraf (أَلْحِرَافُ)

Menurut bahasa artinya miring. Sedngkan menurut istilah adalah huruf yg pengucapan miring setelah keluar dari ujung lidah. Huruf 'ra' dan 'lam', 'ra' miring ke bagian punggung lidah, sedangkan 'lam' miring ke bagian permukaan lidah.

🔸At Takriir (أَلتَّكْرِيْرُ)

Menurut bahasa artinya mengulangi. Sedangkan menurut istilah adalah pengucapan huruf yg disertai bergetar nya ujung lidah. Sifat ini hanya dimiliki oleh huruf 'ra'

🔸At Tafasyi (أَلتَّفَشِّيْ)

Menurut bahasa artinya menyebar. Sedangkan menurut istilah adalah pengucapan huruf yg disertai menyebarnya angin di dalam mulut. Sifat ini hanya dimiliki oleh ش

🔸Al Istithoolah (أَلإِْسْتِطَالَةُ)

Menurut bahasa artinya memanjang. Sedangkan menurut istilah adalah pengucpan huruf yg disertai memanjangnya suara dari awal sisi lidah sampai akhirnya. Sifat ini hanya dimiliki ص

BELAJAR TAJWID

🌹Hukum Nun Mati dan Tanwin

Dalam membaca Nun Mati atau  Tanwin ada bercmacam macam. Ada yg dibaca jelas, ada yg harus samar,ada yg harus lebur,sehingga nun mati atau tanwin tersebut tidak tampak. Adapula yg dibaca seperti mim

Mari kita bahas satu persatu..

🔸Izhar (Idzhar Halqi)

secara bahasa artinya jelas. Sedangkan menurut ilmu tajwid adalah. Pengucapan nun mati atau Tanwin sesuai Mahraj nya tanpa di ghunnahkan apabila bertemu dengan salah satu huruf halqiyyah (Tenggorokkan) huruf huruf nya.

ء،ه‍،ع،ح،غ،خ

🔸Idhgam

Secara bahasa artinya memasukan. Sedangkan menurut ilmu Tajwid pengucapan nun mati atau tanwin secara lebur ketika bertemu huruf Idgham.

Idgham ada 2 :

➡️Idgham Bighunnah (Di Ghunnahkan)

Huruf nya (ي،ن،م،و)

➡️ Idgham Bilaghunnah (Tidak di Ghunnahkan)

Hurufnya : (ل،ر)

🔸Iqlab secara bahasa artinya merubah sedangkan menurut istilah adalah pengucapan nun mati atau tanwin yang bertemu dengan huruf ba' yang berubah menjadi mim dan disertai dengan ghunnah (Sebagian ulama menambahkan ikhfa yakni suara mim tidak terdengar sempurna karena dua bibir tidak merapat dengan sempurna) seperti yang dikatakan Imam Al Jamzuri

"Hukum yang ketiga (dari nun mati dan tanwin) adalah iqlab, yaitu apabika nun matu atau tanwin bertemu dengan ba, maka berubah menjadi Mim yang disertai ghunnah dan ikhfa.

🔸Ikhfa (Ikhfa' Haqiqi)

Secara bahasa artinya menutupi secara sedangkan yang dimaksud disini adalah pengucapan nun mati atau tanwin ketika bertemu dengan huruf huruf ikhfa memiliki sifat antara izhar dan Idgham dengan ghunnah

huruf-huruf nya

ص،ذ،ث،ك،ج،ش،ق،س،د،ط،ز،ف،ت،ض،ظ

Demikian penjelasan dari kami. Kurang lebih nya mohon maaf.

"Amar Ma’ruf Nahi Munkar"

Sebagian orang-orang shalih dari kalangan salaf berkata, “Orang-orang yang mencintai Allah memandang dengan cahaya Allah. Mereka bersikap lemah lembut terhadap para pelaku maksiat, meskipun pada dasarnya mereka membenci perilaku orang-orang yang bermaksiat. Akan tetapi mereka tetap mengasihi mereka dalam rangka membantu mereka untuk menjauhi perbuatan dosa dengan memberikan nasihat dan mengasihi jasad mereka agar tidak dibakar oleh api neraka.”

Saudaraku, demikianlah keadaan orang-orang mukmin. Di satu sisi dia dituntut untuk marah ketika terjadi pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah dan tidak diindahkannya perintah-perintah-Nya dan di sisi lain dia pun dituntut untuk memberikan nasihat kepada saudara muslimnya yang sedang terjatuh dalam kemaksiatan. Maka arahan di atas adalah cara mengkompromikan dua sikap yang seolah-olah bertentangan tersebut. Kita wajib marah kepada perbuatan maksiatnya dan marah sebatas kemaksiatan yang dilakukan dan kita tetap wajib mencintainya sebagai seorang muslim yang berhak mendapatkan kecintaan dari saudaranya yang lain. Allah dan Rasul-Nya menetapkan bahwa antara seorang muslim dengan muslim yang lain wajib saling mencintai dan saling memberi nasihat. Dengan demikian amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan tegak di atas dasar kasih sayang dan cinta-mencintai.

Marâji’: Al-Atqiyâ’ Al-Akhfiyâ’

بَارَكَ اللهُ فِيْك

IIS PSM

Assalamu'alaikum wr. wb.
Islamic International School
Pesantren Sabilil Muttaqien
(IIS PSM) Magetan membuka kesempatan untuk meraih beasiswa jenjang SLTA/SMA Tahun Akademik  2016/2017 jalur:
(a) Hafalan Al-Qur'an, dan
(b) Siswa berprestasi
Gratis biaya sekolah selama 3 tahun.

Pendaftaran terakhir:
Jum'at, 13 Mei 2016

Seleksi:
Ahad, 15 Mei 2016

Formulir pendaftaran dapat diambil langsung di IIS PSM Magetan, Jl. Monginsidi 52 atau didownload melalui www.iispsm.sch.id

IIS PSM
"Strength and Honour"
Phone: (0351) 8198111
FB: IISPSM
IG: iispsm.officia

Letih dengan kesulitan dan masalah?


Rasulullah menjelang wafatnya berbisik lirih kepada ananda tercinta Fatimah rodliyallahu anha, ia menyampaikan

 لا كَرْبَ عَلَى أَبِيكِ بَعْدَ الْيَوْمِ "
" Tak ada kesulitan serta kepedihan untuk ayahmu setelah hari ini ' ( H.R bukhory no 4193)

Dialog singkat Rasulullah kepada Fatimah menegaskan bahwa lika liku kehidupan Rasulullah penuh dengan ujian yang berbalut kesulitan dalam mengarungi kehidupan.

Dan dunia pun berputar di porosnya untuk pula menggelar segala macam ujian hidup, karenanya jangan pernah membayangkan hidup tanpa ada masalah ketika menjalankan syariat, karena mustahil akan terjadi.

Jangan pernah takut serta khawatir dengan masalah serta ujian yang menerpa dalam hidup, tapi takutlah apabila jarang diberikan ujian, maka dari manakah dosa akan berkurang dan maksiat akan terhapus

Jangan letih dari semua ujian, karena dunia bukan tempat melepas lelah dan ruang untuk meletakkan keletihan.

Alloh meletihkan dan melelahkanmu dengan ujian supaya engkau mampu maksimal mereguk kenikmatan syurgawi

Kegetiran dan segala pernik masalah yang Alloh segerakan didunia supaya nikmatnya syurga bagi yang bersabar, seperti lapar dan haus yang dirasakan orang puasa terbayar lunas dan nikmat ketika berbuka puasa

Dan mintalah pertolongan Alloh serta jangan lelah dalam meminta kekuatan melewati ujian, karena semakin beriman semakin dahsyat ujianya, tapi pertolongan jauh lebih besar dari apa yang kita bayangkan

Jangan letih dengan ujian dan segala masalah selama apa yang kita lakukan sesuai syariatnya, karena hamba beriman disifati Rasul sebagai pecinta ujian

ان أحدهم ليفرح بالبلاء كما يفرح أحدكم بالرخاء

Sesungguhnya diantara mukminin ada yang senantiasa senang mendapatkan ujian sebagimana senangnya kalian mendapatkan kemewahan (lihat silsilah ahadits shohihah 1/226)

Dan keletihan itu pun akan selesei dalam kurun waktu yang pendek ketika didunia,  ketika yang bersabar menapak syurga

Dan Alloh pun berfirman

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (٤٩)

"Masuklah ke dalam syurga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati." (QS Al-A'roof : 49)

Ya...hilang semuanya, ketika sudah menapak syurga, sirna tanpa bekas dan sisa.

Oemar mita
Baarokallah fikum
La tansana min duaikum

BAHAN RENUNGAN AKHIR PEKAN; IRONI DAN REALITA DI ZAMAN KITA!


Banyak rumah besar --- keluarganya makin kecil

Gelar makin tinggi --- akal sehat makin rendah

Pengobatan makin canggih --- kesehatan makin buruk

Travelling keliling dunia --- tak kenal dengan tetangga

Penghasilan bertambah --- tak ada ketentraman jiwa

Kualitas ilmu tinggi --- kualitas emosi rendah

Manusia makin banyak --- rasa kemanusiaan makin menipis

Pengetahuan makin bagus --- kearifan makin berkurang

Perselingkuhan makin marak --- kesetiaan hampir punah

Banyak teman di dunia maya --- tak punya sahabat sejati

Minuman keras makin banyak --- air bersih makin berkurang

Pakai jam tangan mahal --- selalu kekurangan waktu

Ilmu semakin tersebar --- adab dan akhlak makin lenyap

Al Qur’an banyak dihafal --- sedikit sekali yang mengamalkan

Belajar semakin mudah --- guru makin tak berharga

Teknologi informasi kian canggih --- fitnah dan aib makin banyak tersebar

Orang yang sedikit ilmu banyak bicara --- orang yang banyak ilmu terdiam

Semoga kita menjadi orang yg bijaksana,  Aamiin Ya Robbal 'alamin

KLARIFIKASI TENTANG ZAKIR NAIK DI INDONESIA

KLARIFIKASI BERITA KEDATANGAN DR. ZAKIR NAIK KE INDONESIA

Bismillahirrahmanirrahim,
Sehubungan dengan beredarnya berita tentang kedatangan Dr. Zakir Naik dan jadwal Ceramah beliau di Indonesia yang simpang siur, serta banyaknya pertanyaan tentang hal tersebut kepada Panitia Acara: “International Talk By Dr. Zakir Naik di Indonesia” Kerjasama: UNIDA Gontor-UMY-UHAMKA dan ITS, maka Panitia menyampaikan Klarifikasi Sebagai berikut:
1.    Berita tentang kedatangan Dr. Zakir Naik ke Indonesia yang banyak beredar di sosial media akhir-akhir ini sama sekali tidak benar. Melalui Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor, Panitia telah mengkorfirmasi langsung berita ini ke Manajemen Dr. Zakir Naik yang saat beredarnya berita ini sedang berada di Malaysia dan hasilnya adalah Dr. Zakir Naik tidak memiliki agenda ke Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh hasil konfirmasi Panitia ke Pihak bandara Soekarno Hatta.
2.    Jadwal Ceramah Dr. Zakir Naik di berbagai tempat di Indonesia yang juga ramai beredar di sosial media juga sama sekali tidak benar. Hingga kini pihak Manajemen Dr. Zakir Naik masih mempelajari jawaban  atas poin-poin penting berkenaan dengan kesiapan Panitia di Indonesia yang nantinya akan diklarifikasi oleh Manajemen Dr. Zakir Naik, mengingat adanya sekitar 4000 surat undangan yang masuk ke meja Manajemen Dr. Zakir Naik.
3.    Untuk itu Panitia mengharapkan agar masyarakat tidak mempercayai berita tentang kehadiran Dr. Zakir Naik berikut jadwal Ceramah beliau di Indonesia kecuali apabila ada informasi resmi yang dikeluarkan oleh Panitia melalui website resmi UNIDA, UMY, UHAMKA dan ITS, serta tidak terpancing dan terkecoh oleh berita-berita yang tidak valid yang mungkin saja sengaja dibuat oleh pihak-pihak tertentu untuk maksud dan kepentingan tertentu.
Panitia memohon dukungan dan support serta do’a agar acara International Talk By Dr. Zakir Naik di Indonesia yang telah dinanti-nanti oleh banyak kalangan dapat terlaksana sebagaimana yang kita harapkan bersama.

Demikian klarifikasi ini kami sampaikan, agar menjadi maklum adanya.

Wassalam
Ponorogo, 20 April 2016

(Ketua Panitia, Dr. M. Kholid Muslih, MA UNIDA Gontor)

MUHASABAH

"Berhenti Sejenak"

Dahulu kala, seorang lelaki yang memiliki fisik kuat melamar pekerjaan ke sebuah pabrik pengolahan kayu. Ia diterima sebagai tukang pembelah kayu dan mendapatkan bayaran sesuai keinginan. Ia pun sangat bergembira dan bersemangat, karena bayaran yang didapatkan cukup besar dan sangat berarti baginya.

Pimpinan pabrik memberi ia gergaji dan menunjukkan batang kayu yang harus  dibelah. Pada hari pertama bekerja ia bisa membelah 21 batang kayu.

"Hebat ! Kamu mampu membelah 21 batang kayu. Jika kamu bisa mempertahankan, nanti di akhir pekan kamu akan mendapatkan bonus," kata pimpinan.

Mendengar janji bonus, lelaki itu semakin bersemangat bekerja. Namun pada hari kedua kerja, ia hanya bisa membelah 19 batang kayu.

Hari ketiga ia berusaha semakin keras, namun hanya bisa membelah 17 batang. Hari keempat prestasinya turun lagi, ia hanya mampu membelah 15 batang. Hari demi hari semakin sedikit batang kayu yang bisa ia belah.

“Mengapa aku bisa kehilangan prestasi? Padahal tubuhku sangat kuat,” pikir pembelah kayu.

Ia pun menemui pimpinan dan meminta maaf atas kinerjanya yang semakin menurun. Ia tidak tahu apa yang terjadi.

“Kapan terakhir kali kamu mengasah gergajimu?” tanya pimpinan.

“Mengasah gergaji? Saya tak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sibuk membalah kayu dan tidak berpikir untuk mengasahnya....”

“Berhentilah sejenak. Asah gergajimu, dan kamu nanti akan mendapatkan hasil yang semakin baik”, kata pimpinan.

Kisah di atas memang sangat inspiratif. Jebakan rutinitas bisa membuat kita kehilangan kemampuan berprestasi.

Bekerja membelah batang-batang kayu membuat jenuh, gergaji menjadi tumpul, dan prestasi kerja pun cenderung menurun.

Maka harus ada waktu untuk berhenti sejenak, mengasah gergaji, istirahat dari rutinititas, dan mengumnpulkan kembali semangat serta tenaga.

Kita semua memerlukan jeda, untuk merenung, berpikir, berkontemplasi, dan mengambil energi baru dalam kehidupan.

Jika tidak menyempatkan waktu untuk mengasah "gergaji" kita, justru akan membuat kita menjadi tumpul, jenuh dan kehilangan kemampuan untuk mengukir prestasimu..

MEMBANGUN RUMAH TANGGA




Nasehat (1): Memilih Istri yang Tepat
Allah berfirman:
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (An-Nur: 32).

Hendaknya seseorang memilih isteri shalihah dengan syarat-syarat sebagai berikut:
"Wanita itu dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka hendaknya engkau utamakan wanita yang memiliki agama, (jika tidak) niscaya kedua tanganmu akan berdebu (miskin, merana)".
Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 9/132.
"Dunia semuanya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah''.
  Hadits riwayat Muslim (1468), cet. Abdul Baqi; dan riwayat An-Nasa'i   dari Ibnu Amr, Shahihul Jami', hadits no.3407
"Hendaklah salah seorang dari kamu memiliki hati yang bersyukur, lisan yang selalu dzikir dan isteri beriman yang menolongnya dalam persoalan akhirat".
Hadits riwayat Ahmad (5/282), At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Tsauban, Shahihul Jami', hadits no. 5231
Dalam riwayat lain disebutkan :
"Dan isteri shalihah yang menolongmu atas persoalan dunia dan agamamu adalah sebaik-baik (harta) yang disimpan manusia".
Hadits riwayat Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab  dari Abu Umamah. Lihat Shahihul Jami', hadits no. 4285
"Kawinilah perempuan yang penuh cinta dan yang subur peranakannya. Sesungguhnya aku membanggakan dengan banyaknya jumlah kalian di antara para nabi pada hari Kiamat."
Hadits riwayat Imam Ahmad (3/245), dari Anas. Dikatakan dalam Irwa 'ul Ghalil, "Hadits ini shahih", 6/195
"(Nikahilah) gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih banyak keturunannya, lebih manis tutur katanya dan lebih menerima dengan sedikit (qana'ah)".
Hadits riwayat lbnu Majah, No. 1861 dan alam As-Silsilah Ash-Shahihah, hadits No. 623
Dalam riwayat lain disebutkan : "Lebih sedikit tipu dayanya".
Sebagaimana wanita shalihah adalah salah satu dari empat  sebab kebahagiaan maka sebaliknya wanita yang tidak shalihah adalah salah satu dari empat penyebab sengsara. Seperti tersebut dalam hadits shahih:
"Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shal, engkau memandangnya lalu engkau kagum dengannya, dan engkau pergi daripadanya tetapi engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu, dan jika engkau pergi daripadanya engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu"
Hadits riwayat Ibnu Hibban dan lainnya, dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, hadits no. 282
Sebaliknya, perlu memperhatikan dengan seksama keadaan orang yang meminang wanita muslimah tersebut, baru mengabulkannya setelah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
"Jika datang kepadamu seseorang yang engkau rela terhadap akhlak dan agamanya maka nikahkanlah, jika tidak kamu lakukan niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar".
Hadits riwayat Ibnu Majah 1967, dalam As-Silsilah Ash-Shahihah,  hadits no. 1022
Hal-hal di atas perlu dilakukan dengan misalnya bertanya, melakukan penelitian, mencari informasi dan sumber-sumber berita terpercaya agar tidak merusak dan menghancurkan rumah tangga yang bersangkutan."
Laki-laki shalih dengan wanita shalihah akan mampu membangun rumah tangga yang baik, sebab negeri yang baik akan keluar tanamannya dengan izin Tuhannya, sedang negeri yang buruk tidak akan keluar tanaman daripadanya kecuali dengan susah payah.
Nasehat (2): Upaya Membentuk (Memperbaiki) Isteri.
Apabila isteri adalah wanita shalihah maka inilah kenikmatan serta anugerah besar dari Allah Ta'ala. Jika tidak demikian, maka kewajiban kepala rumah tangga adalah mengupayakan perbaikan.
Hal itu bisa terjadi karena beberapa keadaan. Misalnya, sejak semula ia memang menikah dengan wanita yang sama sekali tidak memiliki agama, karena laki-laki tersebut dulunya, memang tidak memperdulikan persoalan agama. Atau ia menikahi wanita tersebut dengan harapan kelak ia bisa memperbaikinya, atau karena tekanan keluarganya. Dalam keadaan seperti ini ia harus benar-benar berusaha sepenuhnya sehingga bisa melakukan perbaikan.
Suami juga harus memahami dan menghayati benar, bahwa persoalan hidayah (petunjuk) adalah hak Allah. Allah-lah yang memperbaiki. Dan di antara karunia Allah atas hambaNya Zakaria adalah sebagaimana difirmankan:
"Dan Kami perbaiki isterinya". (Al-Anbiya': 90).
Perbaikan itu baik berupa perbaikan fisik maupun agama. Ibnu Abbas berkata: "Dahulunya, isteri Nabi Zakaria adalah mandul, tidak bisa melahirkan maka Allah menjadikannya bisa melahirkan". Atha' berkata: Sebelumnya, ia adalah panjang lidah, kemudian Allah memperbaikinya".  
Beberapa Metode Memperbaiki Isteri:
  1. Memperhatikan dan meluruskan berbagai macam ibadahnya kepada Allah Ta'ala. Kupasan dalam masalah ini ada dalam pembahasan berikutnya.
  2. Upaya meningkatkan keimanannya, misalnya:
    1. Menganjurkannya bangun malam untuk shalat  tahajjud
    2. Membaca Al Qur'anul Karim.
    3. Menghafalkan dzikir dan do'a pada waktu dan kesempatan tertentu.
    4. Menganjurkannya melakukan banyak sedekah.
    5. Membaca buku-buku Islami yang bermanfaat.
    6. Mendengar rekaman kaset yang bermanfaat, baik     dalam soal keimanan maupun    ilmiah dan terus mengupayakan tambahan koleksi kaset yang sejenis.
    7. Memilihkan teman-teman wanita shalihah baginya sehingga bisa menjalin ukhuwah yang kuat, saling bertukar pikiran dalam masalah-masalah agama serta saling mengunjungi untuk  tujuan yang baik.
    8. Menjauhkannya dari segala keburukan dan pintu-pintunya. Misalnya dengan menjauhkannya dari  

Kisah Nabi Adam As (Bapak Manusia)



“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111).



Allah ialah yang awal; yang tidak ada sesuatu sebelum-Nya, yang berbuat sesuai kehendak-Nya, tidak ada waktu yang membatasi seluruh perbuatan-Nya, firman-Nya keluar sesuai dengan kehendak-Nya, kehendak-Nya sejalan dengan kebijakan-Nya; karena memang Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dalam segala hal yang telah ditakdirkan dan ditetapkan-Nya, sebagaimana Allah pun Maha Bijaksana dalam menetapkan semua ketentuan syari’at-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Berdasarkan kebijaksanaan Allah yang menyeluruh, ilmu-Nya yang melingkupi segala hal dan rahmat-Nya yang sempurna maka Allah Ta’ala memutuskan untuk menciptakan Nabi Adam AS sebagai bapaknya manusia, dimana Allah mengutamakan manusia di atas mahluk lainnya dengan beberapa keutamaan. Kemudian Allah Ta’ala memberitahukannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (al-Baqarah: 30). Yakni seorang khalifah yang berbeda dari mahluk sebelum mereka yang tidak akan mengetahuinya selain Allah.”

Kemudian para malaikat berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.” (Al-Baqarah: 30). Perkataan itu diutarakan mereka dengan maksud mengagungkan Rabb mereka jangan sampai Rabb mereka menciptakan mahluk di muka bumi ini yang akhlaknya menyerupai akhlak mahluk yang pertama atau Allah Ta’ala mengabarkan kepada mereka tentang penciptaan Nabi Adam AS dan pelanggaran yang akan diperbuat keturunannya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitabnya al-Bidaayah Wa an-Nihaayah (1/70-71): “Allah Ta’ala mengabarkan kepada para malaikat dengan gaya bahasa pujian mengenai penciptaan Nabi Nabi Adam AS dan keturunannya, seperti halnya Allah mengabarkan urusan yang besar sebelum penciptaannya. Para malaikat pun bertanya dengan maksud menyelidiki dan mencari tahu tentang hikmah di balik penciptaannya tersebut; dan bukan bermaksud menentang penciptaan Nabi Adam AS dan keturunannya atau iri terhadap mereka; sebagaimana yang dituduhkan para mufassir yang bodoh.”

Allah berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah: 30)

Sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu serta hal-hal yang berkaitan dengan keadaan mahluk tersebut (Nabi Adam AS) mengenai maslahat dan manfaatnya yang tidak terhitung dan tidak terhingga.

Allah memberitahukan kepada mereka tentang keberadaan Dzat-Nya yang sempurna ilmu-Nya dan Allah mesti mengenalkan keberadaan Dzat-Nya yang memiliki keluasan ilmu dan hikmah, sehingga Dia tidak mungkin menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan tidak ada hikmah di baliknya.

Kemudian Allah menjelaskan kepada para malaikat secara mendetail; bahwa Dia akan menciptakan Nabi Adam AS dengan tangan-Nya langsung dan akan memuliakannya di atas seluruh mahluk lainnya. Allah menggenggam satu genggaman dari semua lapisan tanah; baik yang halus, yang kasar, yang subur dan yang gersang, sehingga keturunannya memiliki tabiat-tabiat tersebut. Pada mulanya hanya berupa tanah, kemudian Allah meneteskan air di atasnya, sehingga berubah menjadi lumpur (tanah liat), dan setelah keberadaan air di dalam lumpur tersebut telah cukup lama, maka lumpur itu berubah menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk. Selanjutnya Allah Ta’ala menyempurnakan kejadiannya setelah membentuknya terlebih dahulu; sehingga keberadaannya bagaikan tembikar dari tanah liat. Pada tahapan ini, maka ia hanya berbentuk jasad tanpa ruh. Setelah Allah menyempurnakan penciptaan jasadnya, maka Allah meniupkan ruh ke dalamnya, sehingga jasad itu berubah yang tadinya hanya benda mati menjadi mahluk yang mempunyai tulang, daging, urat saraf, urat-urat kecil dan ruh. Itulah hakikat penciptaan manusia, dan Allah menjanjikannya dengan semua ilmu dan kebaikan.

Allah menyempurnakan ni’mat-Nya kepada Nabi Adam AS dan mengajarinya nama-nama semua benda. Ilmu yang sempurna niscaya dapat membawa kepada kesempurnaan yang pari purna dan kesempurnaan akhlak. Allah hendak memperlihatkan kepada para malaikat mengenai kesempurnaan mahluk ini (Nabi Adam AS). Kemudian Allah menanyakan kepada para malaikat tentang nama-nama benda yang telah disebutkan Nabi Adam AS, seraya Allah Ta’ala berfirman kepada mereka: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kamu orang yang benar!” (Al-Baqarah: 31). Yakni perkataan para malaikat yang terdahulu yang meminta supaya Allah SWT meninggalkan penciptaan-Nya didasarkan pada kenyataan yang tampak di hadapan mereka pada saat itu.

Para malaikat tidak mampu mengetahui nama-nama benda yang telah disebutkan Nabi Adam AS, seraya mereka berkata, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah: 32)

Allah Ta’ala berfirman, “Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (Al-Baqarah: 33)

Para malaikat menyaksikan langsung kesempurnaan mahluk tersebut (Nabi Adam AS) dan kesempurnaan ilmunya yang tidak dimiliki mereka dalam hal hitungannya. Dengan kejadian itu, mereka mengetahui secara mendetail dan menyaksikan langsung kebijaksanaan Allah, kemudian mereka pun mengagungkan serta menghormati Nabi Adam AS. Allah menghendaki pengagungan dan penghormatan yang diperlihatkan para malaikat kepada Nabi Adam AS dilakukan secara lahir dan bathin.

Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam.” (Al-Baqarah: 34). Yakni hendaklah kamu menghormati, mengagungkan dan memuliakannya sebagai ibadah, ketaatan, kecintaan dan kepatuhanmu kepada Rabbmu.


Kemudian para malaikat pun segera bersujud seluruhnya. Ketika mereka sujud, maka ketika itu Iblis berada di antara mereka dan Allah memerintahkannya supaya bersujud kepadanya bersama-sama dengan para malaikat. Iblis bukan berasal dari golongan malaikat, melainkan berasal dari golongan jin yang diciptakan dari api yang sangat panas. Iblis menyembunyikan keingkaran terhadap perintah Allah dan ia merasa iri dengan manusia yang diberikan keutamaan dengan keutamaan tersebut.

Kesombongan dan keingkaran Iblis menyeretnya ke lembah penolakan bersujud kepada Nabi Adam AS., dan sebagai bentuk keingkaran terhadap perintah Allah Ta’ala dan menunjukkan kesombongan.* Iblis tidak dapat menahan perasaan benci dan keengganannya bersujud kepada Nabi Adam AS., sehingga ia mentolelir dirinya untuk menunjukkan penentangannya kepada Rabbnya serta mencela kebijakan-Nya, seraya berkata, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (al-A’raf: 12). Di dalam ayat lain Allah SWT berfirman kepadanya: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Shad: 75)

Jadi kekufuran, kesombongan, keingkaran dan kedengkian adalah sebab utama yang membuat Iblis diusir dan dilaknat.

Allah Ta’ala berfirman kepadanya: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (al-A’raf: 13)

Iblis tidak mau tunduk terhadap perintah Rabbnya dan tidak mau bertaubat kepada-Nya, bahkan ia secara terang-terangan memperlihatkan sikap permusuhannya dan bersikeras akan memusuhi Nabi Adam AS dan keturunannya. Setelah Iblis mengetahui bahwa Allah telah memutuskan baginya penderitaan yang abadi, maka ia segera menyiapkan dirinya untuk menyeru keturunan Nabi Adam AS (manusia) melalui perkataannya atau perbuatannya dan menjadikan mereka sebagai bala tentaranya serta pengikut setianya yang dijanjikan bagi mereka lembah kebinasaan. Iblis berkata, “Ya Rabbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” (Shad: 79). Selanjutnya tuntaslah pemberian hak atas Iblis untuk memusuhi Nabi Adam AS dan keturunannya.

Karena kebijakan Allah telah ditetapkan, bahwa manusia terdiri dari beberapa tabiat yang saling berlawanan, akhlak yang baik atau yang jelek, maka merupakan suatu kemestian untuk membedakan akhlak itu dan cara membersihkannya sesuai dengan kadar penyebabnya dari ujian yang dihadapinya. Ujian terbesarnya adalah kemungkinan Iblis menyeru mereka kepada segala kejahatan, dimana Allah telah mengabulkan permintaan Iblis, seraya berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat).” (Shad: 80-81)

Kemudian Iblis berkata kepada Rabbnya sambil mengikrarkan kedurhakaannya serta permusuhannya kepada Nabi Adam AS dan keturunannya: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at).” (al-A’raf: 16-17)

Iblis mengutarakan perkataannya itu, karena ia merasa yakin tidak akan gagal menggoda manusia.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (as-Saba’: 20)

Selanjutnya Allah menetapkan perintah yang dikehendaki oleh Iblis yaitu menyesatkan Nabi Adam AS dan keturunannya, seraya Allah berfirman kepadanya: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (al-Isra’: 63-64)

Yakni, jika kamu mampu, maka jadikanlah mereka sebagai orang-orang yang menyimpang dalam mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan yang mendatangkan kemudaratan, dan dalam mengelola harta mereka dengan pengelolaan yang menimbulkan kemudaratan dan kegiatan usaha yang melahirkan penderitaan. Kemudian akan berserikat dengannya dari mereka dalam harta dan anak-anak, yaitu orang-orang yang jika memakan makanan, meminum air dan melangsungkan pernikahan, maka mereka tidak menyebut nama Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “… dan beri janjilah mereka” , yakni perintahkanlah kepada mereka agar mendustakan Ba’ats (kebangkitan dari kubur) serta adanya balasan pahala, tidak menggiring mereka kepada kebaikkan, menakut-nakuti mereka dengan para kekasihmu dan menakut-nakuti mereka ketika akan mengeluarkan infak yang bermanfaat dengan menggiring mereka kepada kekejian dan kebakhilan. Ketentuan itu berasal dari Allah untuk memperlihatkan sejumlah hikmah dan rahasia yang besar.

Sesungguhnya kamu, hai musuh yang nyata (Iblis), bahwa kemampuanmu tidak akan tersisa sedikitpun dalam menyesatkan mereka. Orang jahat dari mereka akan terlihat kejahatan dan keburukannya, dan Allah tidak akan mempedulikannya.

Sesungguhnya keturunan Nabi Adam AS terutama para nabi dan para pengikut mereka yang terdiri dari orang-orang yang jujur, orang-orang yang menjaga kesucian diri, para wali dan orang-orang mukmin niscaya Allah Ta’ala tidak memberikan kekuasaan kepada Iblis untuk menyesatkan mereka. Bahkan Allah Ta’ala mendirikan untuk mereka sebuah benteng yang diliputi perlindungan serta jaminan-Nya, dan membekali mereka senjata yang tidak mungkin sanggup diterjang musuh yaitu keimanan kepada Allah dan kekuatan tawakkal mereka kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.” (an-Nahl: 99)

Selain itu Allah telah membantu mereka untuk menentang musuh tersebut (Iblis) dengan beberapa cara, yaitu:
1.      Allah telah menurunkan kepada mereka Kitab-Nya yang mencakup ilmu-ilmu yang bermanfaat dan nasehat-nasehat yang meninggalkan kesan dan memberikan pengaruh serta memberikan dorongan untuk mengerjakan sejumlah kebaikan dan mewanti-wanti dari mengerjakan sejumlah keburukan.

2.      Allah telah mengutus para rasul kepada mereka untuk memberikan kabar gembira kepada orang yang beriman kepada Allah dan taat kepada-Nya dengan balasan pahala yang kontan dan memperingatkan orang yang kufur, mendustakan ayat Allah dan berpaling dari jalan-Nya dengan siksaan yang bermacam-macam. Kemudian menjamin orang yang mengikuti petunjuk-Nya yang diturunkan kepadanya melalui kitab-Nya serta mengutus para rasul-Nya kepadanya supaya tidak tersesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat serta baginya tidak ada ketakutan dan tidak ada kesedihan yang memilukannya.

3.      Allah telah memberikan bimbingan kepada mereka yang tertera dalam kitab-Nya serta melalui lisan para rasul-Nya supaya mengerjakan langkah-langkah yang dapat mengalahkan musuh mereka (Iblis), dan menjelaskan kepada mereka tentang hal-hal yang diserukan syetan dan jalan-jalannya yang dapat menyebabkan khalifah (manusia) menjadi mangsa buruannya.

4.      Sebagaimana halnya Allah telah membimbing mereka dengan menjelaskan hal-hal yang diserukan syetan dan jalan-jalannya, maka Allah juga telah membimbing mereka ke jalan yang akan menyelamatkan mereka dari kejahatan dan fitnahnya dan menolong mereka untuk mewujudkannya dengan pertolongan takdir yang di luar kemampuan mereka. Karena ketika mereka mengerahkan seluruh usaha mereka serta memohon pertolongan kepada Rabb mereka, niscaya Allah sebagai Rabb mereka akan memberi kemudahan kepada mereka dalam menempuh semua jalan yang dapat menyampaikan mereka kepada tujuan yang dimaksud.

5.      Allah menyempurnakan ni’mat-Nya kepada Nabi Adam AS dengan diciptakannya Hawa sebagai pasangan dari jenisnya dan sesuai dengan wujudnya agar ia merasa senang kepadanya dan Allah pun menyempurnakan sejumlah tujuan yang bermacam-macam melalui proses perkawinan, perkumpulan dan penjagaan keturunan melalui proses perkawinan tersebut.

Allah SWT berfirman kepada Nabi Adam AS dan istrinya: “Sesungguhnya syetan itu ialah musuh kamu berdua, hendaklah kamu berdua berhati-hati kepadanya, sehingga jangan sampai syetan itu mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang Allah telah menempatkan kamu berdua di dalamnya; dan Allah telah membolehkan kamu berdua memakan seluruh buah-buahan dan meni’mati seluruh keni’matannya, kecuali hanya satu pohon yang dilarang Allah di dalam surga tersebut, dimana Allah telah mengharamkannya kepada keduanya, seraya berfirman, “Hai Adam, bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim.” (al-A’raf: 19)

Allah berfirman kepada Nabi Adam AS dalam meni’mati seluruh ni’mat yang tersedia di dalam surga: “Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (Thaha: 118-119)

Keduanya tinggal di dalam surga tersebut sesuai dengan kehendak Allah; sebagaimana yang telah dijelaskan Allah bahwa musuh keduanya selalu mengawasi atau mengintai keduanya dan menunggu kesempatan untuk menggoda keduanya.

Ketika Iblis melihat kebahagiaan pada diri Nabi Adam AS dengan dimasukan ke dalam surga dan keinginannya yang besar untuk tetap kekal di dalamnya, maka Iblis menemuinya dengan cara yang halus dalam wujud seorang teman yang akan memberikan nasehat, seraya berkata, “Hai Adam, apakah kamu ingin aku tunjukkan ke suatu pohon yang jika kamu memakan buahnya, maka kamu akan kekal dalam surga ini. Sedang Rabb Yang Maha Kuasa tidak menghendakimu kekal di dalamnya.”

Iblis senantiasa berusaha membisikan pikiran-pikiran jahat, merayu, menggoda, membujuk, berjanji, bersumpah dan menasehati keduanya dengan nasehat yang nyata-nyata sebagai tipu daya yang besar; sehingga akhirnya keduanya terpedaya dan memakan buah pohon yang dilarang atau diharamkan Allah atas keduanya.

Ketika keduanya memakan buah pohon itu, maka tampaklah aurat keduanya yang sebelumnya tertutupi, sehingga keduanya memetik daun-daun dari surga untuk menutupi aurat keduanya. Yakni menempelkan daun-daun surga itu untuk menutupi badan keduanya yang telanjang sebagai pengganti pakaian.

Seketika itu juga turun dan tampak di hadapan keduanya akibat pelanggaran yang telah dilakukan keduanya, sehingga Rabb keduanya menegur keduanya, seraya berfirman, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.” (al-A’raf: 22)

Allah Ta’ala menumbuhkan dalam hati keduanya keinginan untuk bertaubat yang sesungguhnya dan memohon ampunan yang sejujurnya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya.” (Al-Baqarah: 37). Selanjutnya “keduanya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 23)

Kemudian Allah menerima taubat keduanya dan menghapus dosa yang telah diperbuat keduanya, akan tetapi Allah tetap memberikan peringatan atas perbuatan dosa tersebut; yaitu dengan mengeluarkan keduanya dari surga karena memakan buah dari pohon yang telah ditetapkan. Keduanya dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi yang kebaikannya datang silih berganti dengan keburukannya, kebahagiaannya datang silih berganti dengan penderitaannya.

Allah juga mengabarkan kepada keduanya, bahwa Dia akan menguji keduanya dan keturunan keduanya, dimana bagi orang yang beriman dan beramal shalih, niscaya akan mendapatkan balasan yang lebih baik dari keadaannya semula, sedang bagi orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari jalan-Nya, niscaya akan memperoleh balasan akhir yang buruk yaitu penderitaan yang abadi dan siksaan yang kekal.

Allah Ta’ala mewanti-wanti kepada keturunan keduanya supaya waspada terhadap godaan dan tipu daya syetan, seraya berfirman, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (al-A’raf: 27)

Allah memerintahkan kepada keduanya supaya mengganti pakaian keduanya yang dilepaskan oleh syetan dengan pakaian yang dapat menutupi aurat keduanya. Dengan pakaian tersebut maka tercapailah keindahan lahiriyah dalam kehidupan. Akan tetapi pakaian yang lebih tinggi kedudukannya dari pakaian tersebut adalah pakaian takwa yang menjadi pakaian hati dan ruh, yaitu: keimanan, keikhlasan, taubat dan menghiasi diri dengan semua akhlak terpuji dan menjauhkan diri dari semua akhlak tercela.

Kemudian Allah mengembangbiakkan keturunan dari Nabi Adam AS dan Hawa istrinya yang terdiri dari kaum laki-laki dan kaum wanita dalam jumlah yang banyak, menyebarluaskan mereka di muka bumi dan menjadikan mereka sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat bagaimanakah mereka beramal.

Allah SWT berfirman dalam surat al-Kahfi, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Nabi Adam AS”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (al-Kahfi: 50).

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitabnya al-Bidaayah Wa an-Nihaayah (1/72-73): “Iblis keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan sengaja dan menunjukkan keingkaran atau kesombongannya dengan menolak perintah-Nya. Tidaklah Iblis menunjukkan sikap tersebut, kecuali ia telah mengkhianati tabi’atnya serta materi jasadnya, dimana materi yang jelek akan membutuhkan sesuatu yang dapat menutupi kejelekkannya, dan ia adalah mahluk yang diciptakan dari api sebagaimana Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya. Juga sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Shahîh Muslim dari Aisyah RA dari Rasulullah SAW, seraya bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api dan Nabi Adam AS diciptakan dari apa yangtelah digambarkan kepada kalian (dari tanah).”


Adapun di antara faidah yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah:
1. Sesungguhnya kisah besar ini telah dipaparkan Allah di dalam kitab-Nya dalam beberapa tempat (ayat) dengan paparan yang jelas yang di dalamnya tidak ada keraguan dan termasuk kisah yang sangat besar yang disepakati para rasul, kitab-kitab suci samawi diturunkan karenanya dan seluruh pengikut para nabi dari mulai yang pertama hingga yang terakhir telah meyakini kebenarannya.

Dewasa ini muncul sekelompok zindiq yang mengingkari seluruh ajaran yang dibawa para rasul, mengingkari adanya Pencipta (Rabb) serta tidak mempercayai ilmu kecuali ilmu alam (fisika); sehingga pengetahuan mereka tidak akan dapat mengantarkan kepada keyakinan tersebut, karena pengetahuan mereka sangat terbatas.

Berkenaan dengan madzhab yang jauh dari kebenaran ini; baik menurut syara’ maupun akal sehat, bahwa mereka telah mengingkari keberadaan Nabi Adam AS dan Hawa dan keterangan yang dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang keberadaan keduanya.

Sedangkan di antara mereka yang pendapatnya dianggap sesat adalah orang-orang yang berpendapat bahwa manusia mengalami perkembangan dan kemajuan dalam masalah akidah, sebagaimana berkembang dan majunya teknologi. Dengan pendapat tersebut, mereka bermaksud menafikan sejarah akidah, sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur’an dalam kisah Nabi Adam AS dan Iblis dan menafikan wahyu dan para rasul.

Mereka beranggapan bahwa manusia itu berasal dari kera atau sejenisnya, kemudian ia berevolusi sehingga mencapai wujudnya yang sekarang.

Mereka terpedaya oleh teori mereka yang sangat keliru yang didasarkan pada asumsi akal mereka yang sejak semula telah rusak dan mengabaikan keterangan yang bersumber dari ilmu-ilmu yang benar, khususnya ilmu-ilmu yang dibawa para rasul.

Allah Ta’ala telah menegaskan tentang kebenaran ilmu-ilmu yang dibawa para rasul dalam firman-Nya, “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-sasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (Al-Mukmin: 83).

Keberadaan mereka sangatlah jelas bagi kaum muslimin yang berilmu dan orang-orang yang percaya adanya Pencipta, bahwa mereka adalah kelompok paling sesat. Tetapi sebagian pengaruh pendapat madzhab atheis itu dan pendapat-pendapat lainnya yang merujuk pendapat madzhab itu telah diminumkan dan dicekokkan kepada sebagian kaum muslimin.

Ketika sekolompok intelektual muslim yang menamakan diri sebagai kelompok modernis menafsirkan tentang sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam AS dengan makna tunduknya alam ini kepada manusia, dimana benda-benda bumi, barang tambang dan sejenisnya telah ditundukan Allah Ta’ala kepada manusia. Itulah makna sujud para malaikat kepada Nabi Adam AS.

Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir niscaya tidak akan ragu bahwa pendapat itu bersumber dari pemikiran yang rusak dan bertentangan dengan kitab Allah (Al-Qur’an), dimana tidak ada perbedaan di antara penentangannya dengan penentangan yang dilakukan aliran kebatinan dan Qaramithah (salah satu sekte Syi’ah). Jika penafsiran kisah di atas dimaknai dengan makna tersebut, maka penyimpangan tersebut dapat terjadi pada kisah-kisah Al-Qur’an yang lainnya dan Al-Qur’an akan beralih fungsi yang tadinya sebagai penjelas atas segala sesuatu, petunjuk serta rahmat menjadi sebuah simbol yang memungkinkan semua musuh Islam memperlakukannya dengan perlakuan tersebut, sehingga aturan-aturan hukum Al-Qur’an dapat dibatalkan dengan penafsiran tersebut. Selain itu petunjuk Al-Qur’an akan berubah menjadi kesesatan dan rahmatnya berubah menjadi malapetaka. Maha Suci Engkau, Ya Allah. Sesungguhnya perbuatan tersebut merupakan kebohongan yang besar.

Bagi seorang mukmin dalam menyikapi penafsiran semacam itu, maka cukup baginya dengan membatilkan pemikiran atau pendapat keji tersebut dan berpaling kepada keterangan yang dijelaskan Allah kepada kita tentang sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam AS, sehingga ia mengetahui bahwa pendapat itu dimaksudkan untuk menafikan keterangan yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya keindahan tutur kata para pemeluk madzhab tersebut hanya menarik perhatian orang yang berprasangka baik kepada mereka, sedangkan seorang mukmin tidak akan membiarkan keimanannya serta kitab suci Rabb-nya dinodai oleh pendapat yang mengandung tipuan para pengikut madzhab tersebut.

2. Faidah lainnya berkaitan dengan keutamaan ilmu, dimana sikap para malaikat saat ditunjukan kepada mereka keutamaan Nabi Adam AS dengan ilmunya maka mereka mengakui keutamaan dan kesempurnaannya, sehingga berhak mendapat pernghormatan dan pengagungan.

3. Bahwa orang yang dikaruniai ilmu oleh Allah wajib mengakui ni’mat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya dan semestinya ia berkata sebagaimana perkataan para malaikat dan para rasul, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” (Al-Baqarah: 32). Selain itu sudah semestinya baginya memelihara perkataannya dari segala hal yang tidak diketahuinya. Ilmu termasuk ni’mat yang sangat besar, dan cara mensyukurinya adalah mengakuinya sebagai milik Allah, memuji-Nya, mempelajarinya, mengajari orang bodoh, memahamkan sesuatu hal yang telah diketahui kepada seseorang dan berdiam diri dari sesuatu hal yang tidak diketahuinya.

4. Bahwa Allah menjadikan kisah tersebut sebagai pelajaran bagi kita, dimana kesombongan, kedengkian dan ketamakan adalah akhlak yang sangat berbahaya bagi seorang hamba, karena kesombongan dan kedengkian Iblis kepada Nabi Adam AS telah mengubah keadaannya sebagaimana telah anda ketahui serta ketamakan Nabi Adam AS dan Hawa istrinya telah mendorong keduanya memetik buah pohon yang dilarang. Jika saja tidak ada rahmat Allah kepada keduanya, niscaya keduanya akan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Dengan adanya rahmat Allah, sehingga yang kurang menjadi sempurna, yang kalah menjadi menang, yang binasa menjadi selamat dan yang hina menjadi mulia. Al-Hafizh Ibnu Al-Qayyim berkata dalam kitabnya Al-Fawaa`id (hal. 105): “Sumber kesalahan semuanya ada tiga hal, yaitu:
Kesombongan, sifat yang menyebabkan Iblis mengalami akibat sebagaimana dijelaskan di atas. Ketamakan, sifat yang menyebabkan Nabi Adam AS AS dikeluarkan dari surga. Kedengkian, sifat yang menyebabkan seseorang bertindak lalim (lancang) kepada saudaranya.
Barangsiapa yang terjerumus ke dalam kejelekkan ketiga sifat tersebut, niscaya ia telah jatuh ke dalam kejelekkan. Kekufuran bersumber dari kesombongan, kema’siatan bersumber dari ketamakan dan kelancangan dan kelaliman bersumber dari kedengkian.”


5. Bahwa diwajibkan atas seseorang ketika jatuh ke dalam perbuatan dosa untuk segera bertaubat dan mengakui dosa yang diperbuatnya serta mengucapkan ucapan sebagaimana yang diucapkan kedua ibu bapaknya (yakni Nabi Adam AS dan Hawa) dengan hati yang ikhlas dan bertaubat dengan benar. Tidaklah Allah menceritakan taubat keduanya, kecuali supaya kita mengikuti taubat keduanya, sehingga kita mendapatkan kebahagiaan dan diselamatkan dari kebinasaan. Juga tidaklah Allah Ta’ala menceritakan kepada kita tentang hal-hal yang dibisikan syetan dari sesuatu yang dijanjikan kepada kita dan tipu daya yang dihembuskannya untuk menyesatkan kita yang dilakukannya dengan berbagai cara, kecuali supaya kita waspada terhadap musuh tersebut yang secara terang-terangan dan terus-menerus menunjukan permusuhannya.

Allah mencintai kita dengan memerintahkan kita supaya melawan Iblis dengan mengerahkan segenap kemampuan menjauhi jalannya dan garis-garis kebijakannya dan melakukan hal-hal yang akan menumbuhkan perasaan takut akan terjatuh ke dalam perangkapnya, melakukan amalan-amalan yang menjadi benteng pelindung seperti: wirid-wirid yang shahih, dzikir hati dan ta’awudz yang bermacam-macam, menyiapkan senjata penghancur perangkapnya berupa iman yang benar serta kekuatan tawakal kepada Allah, mengabaikan kebenciaannya terhadap amal-amal kebaikan dan menentang bujukannya dan pikiran-pikiran keji yang selalu dihembuskannya setiap saat ke dalam hati dengan melakukan perbuatan yang sebaliknya dan yang membatalkannya seperti ilmu-ilmu yang bermanfaat dan melakukan segala hal yang benar.

6. Bahwa di dalam kisah di atas terdapat dalil bagi madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menetapkan bagi Allah sesuatu yang telah ditetapkan-Nya untuk Dzat-Nya seperti nama-nama yang baik (Asmmaa`ul Husnaa) dan sifat-sifat secara keseluruhan, tanpa membedakan di antara sifat-sifat Dzat dan sifat-sifat perbuatan.

7. Menetapkan dua tangan bagi Allah seperti disebutkan dengan jelas di dalam kisah Nabi Adam AS, “Lammaa Khalaqtu Bi Yadayya (… yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku).” (Shaad: 75). Yakni Allah memiliki dua tangan menurut makna yang hakiki yang tidak serupa dengan tangan mahluk, seperti halnya Dzat-Nya tidak serupa dengan dzat mahluk serta sifat-sifat-Nya tidak serupa dengan sifat-sifat mahluk.

Ahlussunnah sepakat bahwa Allah Ta’ala memiliki dua tangan yang selalu terbentang memberikan karunia serta keni’matan, dan keduanya merupakan sifat dzatiyah yang tetap bagi-Nya menurut kepatutan; dan mereka sepakat bahwa keduanya adalah tangan dalam arti hakiki yang tidak serupa dengan tangan mahluk serta tidak boleh mengalihkan makna keduanya kepada makna kekuasaan, ni’mat serta makna lainnya karena beberapa alasan, yaitu:
Pertama, mengalihkan pembicaraan dari makna hakiki ke makna majazi (kiasan) tanpa dalil.
Kedua, makna tersebut tidak sesuai secara bahasa dalam konteks kalimat seperti firman Allah: “Lammâ Khalaqtu Bi Yadayya (… yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku) dan tidak tepat menggantinya dengan makna: “Lammâ Khalaqtu Bi Ni’matî Au Quwwatî (yang telah Ku-ciptakan dengan ni’mat-Ku atau kekuasaan-Ku) .
Ketiga, adanya penyandaran kata yadd kepada kata Allah dalam bentuk Tatsniyyah (kata yang menunjukkan makna dua), dan tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah pada satu tempat pun menyandarkan kata ni’mat atau quwwah kepada kata Allah dalam bentuk Tatsniyyah, sehingga bagaimana mungkin menafsirkan kata yang satu dengan kata yang satunya lagi?
Keempat, Jika yang dimaksud dengan kedua tangan dalam konteks tersebut adalah kekuasaan, maka entunya dipandang sah mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan Iblis dengan kekuasaan-Nya” dan perkataan sejenisnya. Seandainya dibolehkan, niscaya Iblis akan berargumen dengan perkataan itu kepada Rabb-nya ketika berfirman kepadanya, “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (Shaad: 75).
Masih banyak alasan lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat merujuk kitab Al-Fatwa Al-Hamawiyyah, karya Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dan ringkasannya karya Ibnu ‘Utsaimin.